Tampilkan postingan dengan label Kurikulum 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kurikulum 2013. Tampilkan semua postingan

Download Silabus PAI dan Bahasa Arab Kurikulum 2013 MA Reguler dan Keagamaan Edisi Revisi 2016


Beberapa waktu yang lalu telah diterbitkan Silabus Kurma 2013 untuk MIMTs dan MA.  Berikut ini kami postingkan tentang Silabus PAI dan Bahasa Arab Kurikulum 2013 MA Reguler dan Keagamaan Edisi Revisi 2016 lengkap mulai dari Kelas 10 sampai dengan kelas 12 Madrasah Aliyah. Semua file yang ada dalam Silabus ini dalam format Microsoft Word sehingga memudahkan Anda dalam penggunaan maupun untuk keperluan pengeditan sesuai dengan kebutuhan.



Adapun isi file silabus yang ada  adalah sebagai berikut :

Kelas 10

Silabus Al Qur'an Hadis
Silabus Akidah Akhlak
Silabus Fikih
Silabus Ushul Fikih
Silabus SKI
Silabus Bahasa Arab

Kelas 11

Silabus Al Qur'an Hadis
Silabus Akidah Akhlak
Silabus Fikih
Silabus SKI
Silabus Bahasa Arab

Kelas 12 Reguler

Silabus Al Qur'an Hadis
Silabus Akidah Akhlak
Silabus Fikih
Silabus SKI
Silabus Bahasa Arab

Kelas 12 Keagamaan

Silabus Hadis dan Ilmu Hadis
Silabus Akhlak
Silabus Fikih Ushul Fikih
Silabus SKI

Silabus Bahasa Arab
Silabus Tafsir Keagamaan
Silabus Ilmu Kalam


Bagi Anda yang membutuhkan file ini, silahkan diunduh pada tautan yang telah kami sediakan di bawah ini secara gratis.

Download Silabus PAI dan Bahasa Arab Kurikulum 2013 MA Edisi Revisi 2016

Catatan :
Setelah Anda download, silahkan copy pastekan password berikut ini saat mengekstrak file.
Adapun passwordnya adalah : alfata

Terkait dengan Silabus PAI dan Bahasa Arab Kurikulum 2013 ini, ada baiknya Anda simak juga yang ini :

Prinsip-prinsip dalam Pengembangan Silabus Kurikulum Madrasah 2013.
Langkah-langkah dalam Pengembangan Silabus Kurikulum Madrasah 2013


Demikian Download Silabus PAI dan Bahasa Arab Kurikulum 2013 MA Edisi Revisi 2016.


Semoga bermanfaat, khususnya bagi Anda yang membutuhkan


Download Silabus PAI dan Bahasa Arab Kurikulum 2013 MI Edisi Revisi 2016



Memenuhi permintaan dari sahabat setia dari seluruh pelosok nusantara, berikut ini kami postingkan tentang Silabus PAI dan Bahasa Arab Kurikulum 2013 MI Edisi Revisi 2016 lengkap mulai dari Kelas 1 sampai dengan kelas 6 Madrasah Ibtidaiyyah. Semua file yang ada dalam Silabus ini dalam format Microsoft Word sehingga memudahkan Anda dalam penggunaan maupun untuk keperluan pengeditan sesuai dengan kebutuhan.



Adapun isi file silabus yang ada  adalah sebagai berikut :


Kelas 1

Silabus Al Qur'an Hadis
Silabus Akidah Akhlak
Silabus Fikih
Silabus Bahasa Arab


Kelas 2

Silabus Al Qur'an Hadis
Silabus Akidah Akhlak
Silabus Fikih
Silabus Bahasa Arab

Kelas 3

Silabus Al Qur'an Hadis
Silabus Akidah Akhlak
Silabus Fikih
Silabus SKI
Silabus Bahasa Arab

Kelas 4

Silabus Al Qur'an Hadis
Silabus Akidah Akhlak
Silabus Fikih
Silabus SKI
Silabus Bahasa Arab

Kelas 5

Silabus Al Qur'an Hadis
Silabus Akidah Akhlak
Silabus Fikih
Silabus SKI
Silabus Bahasa Arab

Kelas 6

Silabus Al Qur'an Hadis
Silabus Akidah Akhlak
Silabus Fikih
Silabus SKI
Silabus Bahasa Arab

Bagi Anda yang membutuhkan file ini, silahkan diunduh pada tautan yang telah kami sediakan di bawah ini secara gratis.

Download Silabus PAI dan Bahasa Arab Kurikulum 2013 MI Edisi Revisi 2016

Catatan :
Setelah Anda download, silahkan copy pastekan password berikut ini saat mengekstrak file.
Adapun passwordnya adalah : alfata

Terkait dengan Silabus PAI dan Bahasa Arab Kurikulum 2013 ini, ada baiknya Anda simak juga yang ini :

Prinsip-prinsip dalam Pengembangan Silabus Kurikulum Madrasah 2013.
Langkah-langkah dalam Pengembangan Silabus Kurikulum Madrasah 2013


Demikian Download Silabus PAI dan Bahasa Arab Kurikulum 2013 MI Edisi Revisi 2016.

Semoga bermanfaat, khususnya bagi Anda yang membutuhkan

Download Silabus PAI dan Bahasa Arab Kurikulum 2013 MTs Edisi Revisi 2016


Beberapa waktu yang lalu telah diterbitkan Silabus Kurma 2013 untuk MI, MTs dan MA.  Berikut ini kami postingkan tentang Silabus PAI dan Bahasa Arab Kurikulum 2013 MTs Edisi Revisi 2016 lengkap mulai dari Kelas 7 sampai dengan kelas 9 Madrasah Tsanawiyah. Semua file yang ada dalam Silabus ini dalam format Microsoft Word sehingga memudahkan Anda dalam penggunaan maupun untuk keperluan pengeditan sesuai dengan kebutuhan.



Adapun isi file silabus yang ada  adalah sebagai berikut :

Kelas 7

Silabus Al Qur'an Hadis
Silabus Akidah Akhlak
Silabus Fikih
Silabus SKI
Silabus Bahasa Arab

Kelas 8

Silabus Al Qur'an Hadis
Silabus Akidah Akhlak
Silabus Fikih
Silabus SKI
Silabus Bahasa Arab

Kelas 9

Silabus Al Qur'an Hadis
Silabus Akidah Akhlak
Silabus Fikih
Silabus SKI
Silabus Bahasa Arab


Bagi Anda yang membutuhkan file ini, silahkan diunduh pada tautan yang telah kami sediakan di bawah ini secara gratis.

Download Silabus PAI dan Bahasa Arab Kurikulum 2013 MTs Edisi Revisi 2016

Catatan :
Setelah Anda download, silahkan copy pastekan password berikut ini saat mengekstrak file.
Adapun passwordnya adalah : alfata

Terkait dengan Silabus PAI dan Bahasa Arab Kurikulum 2013 ini, ada baiknya Anda simak juga yang ini :

Prinsip-prinsip dalam Pengembangan Silabus Kurikulum Madrasah 2013.
Langkah-langkah dalam Pengembangan Silabus Kurikulum Madrasah 2013


Demikian Download Silabus PAI dan Bahasa Arab Kurikulum 2013 MTs Edisi Revisi 2016.


Semoga bermanfaat, khususnya bagi Anda yang membutuhkan




Tentang Kurikulum Nasional dan Kurikulum 2013 Edisi Revisi 2016




Sahabat Alfata,

Kurikulum Nasional merupakan sebuah wacana yang sempat bergulir pada saat Kurikulum 2013 mengalami proses revisi dan perubahan. Hal ini dikarenakan untuk pertama kalinya penerapan Kurikulum 2013 ini banyak hal dan Faktor yang bisa dikatakan menjadi permasalahan sehingga Kurikulum ini tidak serentak dilaksanakan di seluruh Indonesia. Hanya Beberapa sekolah yang ditunjuk langsung dan menjadi percobaan penerapan kurikulum ini.

Berdasarkan informasi yang kami peroleh, proses revisi Kurikulum 2013 (K-13) sebenarnya telah dilakukan sejak bulan Januari 2015 hingga akhir bulan Oktober 2015. Revisi kurikulum 2013 (K-13) dan konsekuensi perubahannya dilakukan berdasarkan berbagai masukan dari publik, para ahli dan para pegiat serta pemerhati pendidikan sehingga ada perbaikan pada Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) baik format maupun isinya. 

Menurut Kepala Bidang Perbukuan Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Puskurbuk Kemendikbud), Supriyatno mengatakan bahwa secara konten tidak ada yang salah dalam buku Kurikulum 2013. Kesalahan terdapat pada urutan, terutama buku tematik yang merupakan integrasi dari berbagai mata pelajaran. “Jadi yang berubah adalah urutannya, sehingga otomatis akan berubah semuanya. Misalnya untuk pelajaran di kelas 8 sebelumnya teori pitagoras diajarkan pada semester 1, di buku edisi revisi ini diajarkan di semester 2, urutan penyajian disesuaikan dengan kompetensi dasarnya,” katanya.

Ia menjelaskan, buku pelajaran K-13 disesuaikan dengan kompetensi dasar yang dituntut sehingga harus direvisi. Dari perubahan itu, buku yang sudah beredar di masyarakat secara konten masih tetap dapat dipakai, sehingga yang berubah dari buku K-13 itu adalah penyajiannya saja.

Kemudian, secara fisik buku K-13 yang lama itu tidak mencantumkan informasi tentang penulis, penelaah dan editornya. Pada edisi revisi ini informasi mengenai penulis, penelaah dan editor sudah dicantumkan secara detil. Hal itu memungkinkan masyarakat untuk dapat mengetahui dan berkomunikasi dengan unsur-unsur penerbitan buku, serta bisa menyampaikan langsung ke penulis atau melalui portal/laman yang sedang disiapkan, sehingga ada keterlibatan publik untuk mengontrol kualitas buku tersebut.

Supriyatno juga menambahkan, buku pelajaran K-13 ini berbasiskan kurikulum, bukan berbasis keilmuan. “Sebetulnya perubahan itu terjadi pada urutan, bukan karena salah materinya, tetapi pada urutan penyajian di dalam buku, lebih ke arah itu. Kemudian juga adanya kompetensi dasar yang lebih operasional, sehingga menuntut buku pelajaran K-13 perlu diperbaiki,” tuturnya.

Proses penyusunan revisi buku K-13, katanya, dimulai dari penulis, lalu di telaah lagi. Hasil telaah kemudian diperbaiki kembali oleh penulis, kemudian diatur dan diedit bahasa dan penyajiannya oleh editor, kemudian hasilnya diperbaiki di bagian setting, lalu dibuatkan dummy-nya untuk diuji tingkat keterbacaannya oleh guru (teacher review) di sekolah apakah cukup dipahami. Kemudian bila ada perbaikan akan di-setting kembali.  Tahap final dilanjutkan dengan pembuatan naskah siap cetak  (camera ready copy).

“Buku pelajaran untuk kelas 1 sampai kelas 12 berjumlah 300 judul, sedangkan kelas 1, 4, 7 dan 10 berjumlah 100 judul termasuk buku agama, untuk buku pelajaran semester 2 akan disiapkan Januari mendatang,” kata Supriyatno.

“Saat ini kami sedang melakukan setting/layout buku pelajaran kurikulum 2013 (K-13) edisi revisi, diharapkan pada tahun ajaran baru bulan Juli nanti dapat dipakai buku edisi revisi ini, yang akan dipakai bulan Juli itu adalah kelas 1, 4 ,7 dan 10.” kata Supriyatno.

Perbaikan Kurikulum 2013 edisi 2016 ini dengan diawali adanya Diklat Kurikulum yang dilaksanakan menjelang berakhirnya semester genap tahun pelajaran 2015/2016 kemarin; di mana dalam pelaksanaannya peserta pelatihan ini dipilih dari guru-guru Kemendikbud yang dalam pelaksanaan UKG (Uji Kompetensi Guru) memperoleh hasil yang memuaskan. Sedangkan untuk guru-guru madrasah yang berada di bawah naungan Kemenag, sampai saat ini belum ada kebijakan yang diterbitkan terkait dengan Kurikulum 2013 edisi revisi 2016 ini. Jadi dapat dikatakan bahwa bagi madrasah yang telah ditunjuk dan atau memilih untuk memakai Kurikulum 2013, masih mengacu dan berpedoman pada kebijakan lama.

Kurikulum Nasional ataukah tetap Kurikulum 2013 ???

Banyak rekan guru yang penasaran dan mempertanyakan tentang nama kurikulum yang akan digunakan setelah adanya proses revisi ini, apakah namanya akan diganti dengan Kurikulum Nasional sebagaimana yang telah sempat bergulir selama ini ataukah tetap memakai nama Kurikulum 2013. 

Berdasarkan penggalian dan penelusuran yang telah kami lakukan, khususnya dari mereka yang telah mengikuti Diklat Kurikulum, kami peroleh informasi yang merupakan poin penting Perubahan Kurikulum 2013 edisi revisi tahun 2016 ini; diantaranya adalah :

  1. Nama kurikulum tidak berubah menjadi kurikulum nasional, melainkan tetap memakai nama Kurikulum 2013 Edisi revisi yang berlaku secara Nasional.
  2. Penilaian sikap Kompetensi Inti (KI 1 & KI 2) sudah ditiadakan di setiap mata pelajaran kecuali mapel agama dan PPKn; namun demikian Kompetensi Inti tetap dicantumkan dalam penulisan RPP.
  3. Jika ada 2 nilai praktek dalam 1 KD (Kompetensi Dasar), maka yang diambil adalah nilai yang tertinggi. Penghitungan nilai ketrampilan dalam 1 KD dijumlahkan (praktek, produk, portofolio) dan diambil nilai rata-rata. untuk pengetahuan, bobot penilaian harian dan penilaian akhir semester itu sama. 
  4. Pendekatan scientific 5M bukan lah satu-satunya metode saat mengajar dan apabila digunakan maka susunannya tidak harus berurutan.
  5. Silabus kurtilas edisi revisi lebih ramping hanya 3 kolom yaitu KD, materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran
  6. Perubahan terminologi Ulangan Harian menjadi Penilaian Harian, UAS menjadi Penilaian Akhir Semester untuk semester ganjil dan Penilaian Akhir Tahun untuk semester genap. Sedangkan untuk Ulangan Tengah Semester (UTS) sudah tidak ada lagi dan langsung ke Penilaian Akhir Semester atau Penilaian Akhir Tahun
  7. Dalam RPP, tidak perlu disebutkan nama metode pembelajaran yang digunakan dan materi dibuat dalam bentuk lampiran berikut dengan rubrik penilaian (jika ada).
  8. Skala penilaian menjadi 1-100. Penilaian sikap diberikan dalam bentuk predikat dan deskripsi. 
  9. Remedial diberikan untuk yang memperoleh hasil / nilai kurang, namun sebelumnya siswa harus diberikan pembelajaran ulang. Nilai Remedial adalah nilai yang dicantumkan dalam hasil.
(Diolah dari berbagai sumber).

Demikian informasi yang bisa kami bagikan Tentang Kurikulum Nasional dan Kurikulum 2013 Edisi Revisi 2016 beserta poin penting terkait perubahan dan perbaikannya. 

Semoga bermanfaat dan semoga Anda bisa mendapatkan pencerahan dan menjadikan gambaran mengenai Kurikulum 2013 edisi revisi 2016 ini.

Terima kasih dan salam jabat erat.



Langkah-langkah dalam Pengembangan Silabus Kurikulum Madrasah 2013



Secara umum, silabus adalah merupakan rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran atau tema tertentu yang mencakup Kompetensi Inti, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.

Terkait dengan Silabus PAI dan Bahasa Arab, berikut ini merupakan langkah-langkah penting yang harus diketahui oleh guru madrasah dalam Pengembangan Silabus Kurikulum Agama 2013

1. Menganalisis SKL, KI, dan KD

  • urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI;
  • keterkaitan antara kompetensi inti dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran;
  • keterkaitan antara kompetensi inti dan kompetensi dasar lintas mata pelajaran.

2. Merumuskan Indikator

indikator diturunkan dari kompetensi dasar yang dijabarkan dengan kata operasional yang dapat diukur. Indikator yang diturunkan adalah indikator yang berasal dari KD dari KI-3 dan KD dari KI-4, indikator-indikator tersebut diturunkan untuk menentukan materi pembelajaran. Adapun untuk penilaian pengetahuan dan keterampilan dapat dilihat dari indikator KD dari KI-3 dan KD dari KI-4, sedangkan penilaian sikap dari KD KI-1 dan KD KI-2 dapat dilihat pada Kegiatan Pembelajaran baik secara langsung maupun tidak langsung. Indikator ini adalah indikator esensial yang masih dapat dikembangkan.

3. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran

Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:
  • potensi peserta didik;
  • relevansi dengan karakteristik daerah,
  • tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik;
  • kebermanfaatan bagi peserta didik;
  • struktur keilmuan;
  • aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
  • relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
  • alokasi waktu.




4. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.
  • Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara efektif.
  • Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
  • Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
  • Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penanda yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi pembelajaran.

5. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun teknis dan alat penilaian.

6. Penentuan Jenis Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.
  • Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
  • Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
  • Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta didik.
  • Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. yang berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
  • Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.

7. Menentukan Alokasi Waktu

Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

8. Menentukan Sumber Belajar

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

Demikian Langkah-langkah dalam Pengembangan Silabus Kurikulum Madrasah 2013 yang perlu untuk diketahui oleh guru madrasah.

Semoga bermanfaat


Langkah-langkah dalam Pengembangan Silabus Kurikulum Madrasah 2013



Secara umum, silabus adalah merupakan rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran atau tema tertentu yang mencakup Kompetensi Inti, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.

Terkait dengan Silabus PAI dan Bahasa Arab, berikut ini merupakan langkah-langkah penting yang harus diketahui oleh guru madrasah dalam Pengembangan Silabus Kurikulum Agama 2013

1. Menganalisis SKL, KI, dan KD

  • urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI;
  • keterkaitan antara kompetensi inti dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran;
  • keterkaitan antara kompetensi inti dan kompetensi dasar lintas mata pelajaran.

2. Merumuskan Indikator

indikator diturunkan dari kompetensi dasar yang dijabarkan dengan kata operasional yang dapat diukur. Indikator yang diturunkan adalah indikator yang berasal dari KD dari KI-3 dan KD dari KI-4, indikator-indikator tersebut diturunkan untuk menentukan materi pembelajaran. Adapun untuk penilaian pengetahuan dan keterampilan dapat dilihat dari indikator KD dari KI-3 dan KD dari KI-4, sedangkan penilaian sikap dari KD KI-1 dan KD KI-2 dapat dilihat pada Kegiatan Pembelajaran baik secara langsung maupun tidak langsung. Indikator ini adalah indikator esensial yang masih dapat dikembangkan.

3. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran

Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:
  • potensi peserta didik;
  • relevansi dengan karakteristik daerah,
  • tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik;
  • kebermanfaatan bagi peserta didik;
  • struktur keilmuan;
  • aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
  • relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
  • alokasi waktu.




4. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.
  • Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara efektif.
  • Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
  • Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
  • Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penanda yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi pembelajaran.

5. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun teknis dan alat penilaian.

6. Penentuan Jenis Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.
  • Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
  • Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
  • Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta didik.
  • Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. yang berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
  • Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.

7. Menentukan Alokasi Waktu

Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

8. Menentukan Sumber Belajar

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

Demikian Langkah-langkah dalam Pengembangan Silabus Kurikulum Madrasah 2013 yang perlu untuk diketahui oleh guru madrasah.

Semoga bermanfaat


Prinsip-prinsip dalam Pengembangan Silabus Kurikulum Madrasah 2013


Sahabat Alfata


Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup Kompetensi Inti, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Silabus pembelajaran dikembangkan setelah melakukan analisis KI-KD untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Standar Kompetensi Lulusan (SKL) masing-masing tingkat satuan pendidikan. 

Pengembangan silabus standar telah dilakukan oleh pemerintah, melalui tim kemendikbud dan tim Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama. Setiap guru Madarasah berkewajiban menganalisis dan mengembangkan silabus, secara lengkap, sistematis dan operasional agar dapat digunakan sebagai pedoman dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). 



Penyusunan dan pengembangan silabus dilakukan pada setiap awal tahun pelajaran, sehingga silabus dapat dijadikan acuan dalam menyusun perangkat perencaraan pembelajaran. Penyusunan dan pengembangan silabus dapat dilakukan secara mandiri atau berkelompok dengan tetap mengacu kepada pedoman penyusunan silabus.  Penyusunan dan pengembangan silabus yang dilakukan oleh guru secara mandiri dan/atau bersama-sama  melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran(MGMP)  di dalam suatu madrasah tertentu difasilitasi dan disupervisi kepala sekolah atau guru senior yang ditunjuk oleh kepala Madrasah.

Penyusunan dan pengembangan silabus yang dilakukan oleh guru secara berkelompok melalui KKG-MGMP  antar  madrasah atau antar  wilayah dikoordinasikan dan disupervisi oleh pengawas atau Kementerian Agama kabupaten/kota.


Dalam mengembangkan silabus harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
  1. Mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah.
  2. SK Dirjen Pendis No 2676 tahun 2013 tentang kurikulum 2013 mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab di Madrasah.
  3. Ilmiah: Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. 
  4. Relevan: Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.
  5. Sistematis: Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. 
  6. Konsisten: Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sistem penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.
  7. Memadai: Cakupan indikator, materi pokok/materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar. 
  8. Aktual dan Kontekstual: Cakupan indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
  9. Fleksibel:  Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di Madrasah dan tuntutan masyarakat. 
  10. Menyeluruh: Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan).
  11. Kontinyuitas: Pengembangan silabus berkelanjutan disesuaikan kebutuhan dan perkembangan.

Komponen Dalam Silabus

Komponen silabus  terdiri dari: 

1. Identitas

Satuan Pendidikan :  
Mata Pelajaran/Tema       :  
Kelas/Semester                 :  

2. Kompetensi Inti (KI)

3. Kompetensi Dasar 

4. Indikator: 

  1.  _____________ (KD pada KI-1)  
  2.  _____________ (KD pada KI-2)  
  3.  _____________ (KD pada KI-3) Indikator: __________________ 
  4.  _____________ (KD pada KI-4) Indikator: __________________ 
Catatan:  
KD dari KI-1 dan KI-2 tidak harus diturunkan dalam indikator karena keduanya berada dalam real kehidupan yang terkadang sulit ditemukan indikatornya, namun dapat dinilai secara otentik melalui aktifitas peserta didik mulai dari input hingga out put baik di dalam maupun diluar kelas, baik secara langsung atau secara tidak langsung. 

5. Materi Pembelajaran (Materi Pokok)  

6. Kegiatan Pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan ilmiah. 

7. Penilaian otentik dimana penilaian ketiga ranah sikap, pengetahuan dan  ketrampilan harus seimbang.

8. Sumber Belajar bisa merupakan buku pelajaran, ceramah guru, media elektronik, dan lain-lain


Mekanisme Pengembangan Silabus

Mekanisme Pengembangan Silabus dikembangkan oleh:

1. Kementerian Agama RI.

Silabus untuk madrasah yang dikembangkan oleh Kementerian Agama yaitu silabus mata pelajaran untuk Kelompok A, Kelompok B, dan Kelompok C Peminatan untuk Madrasah Aliyah.

2. Kementerian Agama Wilayah / Kabupaten

  • Silabus yang dikembangkan pada tingkat daerah yaitu silabus sejumlah bahan kajian dan pelajaran dan/atau mata pelajaran muatan lokal yang ditentukan oleh daerah yang bersangkutan.
  • Silabus muatan lokal yang berlaku untuk seluruh wilayah provinsi ditetapkan oleh Kementrian Agama Wilayah.
  • Silabus muatan lokal yang berlaku untuk seluruh wilayah kabupaten/kota ditetapkan oleh Kementerian Agama kabupaten/kota.

3. Satuan Pendidikan

Silabus yang dikembangkan pada tingkat satuan pendidikan yaitu silabus muatan lokal yang berlaku pada satuan pendidikan yang bersangkutan.


Semoga bermanfaat



Penerapan Pendekatan Saintifik Dalam Pembelajaran Kurikulum 2013



Dalam setiap pelaksanaan kegiatan pembelajaran, pada dasarnya dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kegiatan pokok, yaitu :
  • kegiatan pendahuluan,
  • kegiatan inti, dan 
  • kegiatan penutup. 

1. Kegiatan pendahuluan

Kegiatan pendahuluan bertujuan untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif yang memungkinkan siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Sebagai contoh ketika memulai pembelajaran, guru menyapa anak dengan nada bersemangat dan gembira (mengucapkan salam), mengecek kehadiran para siswa dan menanyakan ketidak-hadiran siswa apabila ada yang tidak hadir dll.

Dalam metode saintifik tujuan utama kegiatan pendahuluan adalah memantapkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang telah dikuasai yang berkaitan dengan materi pelajaran baru yang akan dipelajari oleh siswa. Oleh karena itu dalam kegiatan ini guru harus mengupayakan agar siswa yang belum paham suatu konsep dapat memahami konsep tersebut, sedangkan siswa yang mengalami kesalahan konsep, kesalahan tersebut dapat dihilangkan. Pada kegiatan pendahuluan, disarankan guru menunjukkan fenomena atau kejadian “aneh” atau “ganjil” (discrepant event) yang dapat menggugah timbulnya pertanyaan pada diri siswa.

2. Kegiatan inti

Kegiatan inti merupakan kegiatan utama dalam proses pembelajaran atau dalam proses penguasaan pengalaman belajar (learning experience) siswa. Kegiatan inti dalam pembelajaran adalah suatu proses pembentukan pengalaman dan kemampuan siswa secara terprogram yang dilaksanakan dalam durasi waktu tertentu. Kegiatan inti dalam metode saintifik ditujukan untuk terkonstruksinya konsep, hukum atau prinsip oleh siswa dengan bantuan dari guru melalaui langkah-langkah kegiatan yang diberikan di muka.

3. Kegiatan penutup

Kegiatan penutup ditujukan untuk dua hal pokok. Pertama,validasi terhadap konsep, hukum atau prinsip yang telah dibangun oleh siswa. Kedua, pengayaan materi pelajaran yang dikuasai siswa.


Contoh Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Intructional)

Problem Based Intructional (PBI) berlandaskan pada psikologi kognitif. Fokus guru tidak begitu menekankan kepada apa yang sedang dilakukan peserta didik (perilaku peserta didik) melainkan kepada apa yang mereka pikirkan (kognisi) pada saat mereka melakukan kegiatan itu. Oleh karena itu peran utama guru pada PBI adalah membimbing dan memfasilitasi sehingga peserta didik dapat belajar berpikir dan memecahkan masalah oleh mereka sendiri.

Sintaks Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terdiri dari lima tahap utama, yang dimulai dengan guru mengorientasikan peserta didik kepada situasi masalah yang autentik dan diakhiri dengan penyajian karya. Jika jangkauan masalahnya sedang-sedang saja, kelima tahapan tersebut dapat diselesaikan dalam dua sampai tiga kali pertemuan. Namun masalah yang kompleks mungkin akan membutuhkan setahun penuh untuk menyelesaikannya.

Adapun tahapan dan indikator tingkah laku guru menurut sintaks pembelajaran problem based learning (PBL), sebagai berikut:
  1. Orientasi peserta didik kepada masalah; Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, Menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilihnya
  2. Mengorganisasi peserta didik untuk Belajar, Guru membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
  3. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
  4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya: Guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
  5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah: Guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan


Contoh penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Pembelajaran berbasis proyek atau tugas adalah metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam pengumpulan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. Pembelajaran berbasis proyek/tugas (projectbased/ task learning) membutuhkan suatu pendekatan guruan komprehensif di mana lingkungan belajar peserta didik didesain agar peserta didik dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. 

Pendekatan ini memperkenankan peserta didik untuk bekerja secara mandiri dalam mengkostruksikannya dalam produk nyata. Dalam pembelajaran berbasis proyek, peserta didik diberikan tugas atau proyek yang kompleks, cukup sulit, lengkap, tetapi realistik dan kemudian diberikan bantuan secukupnya agar mereka dapat menyelesaikan tugas. Di samping itu, penerapan strategi pembelajaran berbasis proyek/tugas ini mendorong tumbuhnya kompetensi nurturant seperti kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, kepercayaan diri, dan berpikir kritis dan analitis.

Tahapan Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning). Secara umum Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki pedoman tahapan: Planning (perencanaan), Creating (mencipta atau implementasi) dan Processing (pengolahan) tetapi dari tiga tahapan tersebut dapat dideskripsikan menjadi enam tahapan sebagai berikut:
  1. Persiapan; pada tahap ini guru merancang desain atau membuat kerangka proyek yang bermanfaat dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh peserta didik dalam mengembangkan pemikiran terhadap proyek tersebut sesuai dengan kerangka yang ada, dan menyediakan sumber yang dapat membantu pengerjaannya. Hal ini akan mendukung keberhasilan peserta didik dalam menyelesaikan suatu proyek dan cukup membantu dalam menjawab pertanyaan, beraktivitas dan berkarya. Kerangka menjadi sesuatu yang penting untuk dibaca dan digunakan oleh peserta didik.
  2. Penugasan/menentukan topik. Sesuai dengan tugas proyek yang diberikan oleh guru maupun pilihan sendiri, peserta didik akan memperoleh dan membaca kerangka proyek, lalu berupaya mencari sumber yang dapat membantu. Lalu peserta didik berupaya berpikir dengan kemampuannya berdasar pada pengalaman yang dimiliki, membuat pemetaan topik, dan mengembangkan gagasannya dalam menentukan sub topik suatu proyek.
  3. Merencanakan kegiatan. Peserta didik bekerja dalam proyek individual, kelompok dalam satu kelas atau antar kelas. Peserta didik menentukan kegiatan dan langkah yang akan diambil sesuai dengan sub topiknya, merencanakan waktu pengerjaan dari semua sub topik. Jika bekerja dalam kelompok, tiap anggota harus mengikuti aturan dan memiliki rasa tanggungjawab. Sedangkan guru berkewajiban menyampaikan isi dari rencana proyeknya kepada orang tua, sehingga orang tua ikut serta membantu dan mendukung anaknya dalam menyelesaikan proyek.
  4. Investigasi dan penyajian. Investigasi di sini termasuk kegiatan menanyakan pada ahlinya. Dalam perkembangannya, terkadang berisi observasi, atau eksperimen. Secara rutin, orang tua dan guru berkomunikasi untuk memantau kegiatan dan prestasi yang dicapai oleh peserta didik.
  5. Finishing. Peserta didik membuat laporan, presentasi, dan lain-lain sebagai hasil dari kegiatannya. Lalu guru dan peserta didik membuat catatan terhadap proyek untuk pengembangan selanjutnya. Peserta menerima feedback atas apa yang dibuatnya dari kelompok, teman, dan guru.
  6. Monitoring/Evaluasi. Guru menilai semua proses pengerjaan proyek yang dilakukan oleh tiap peserta didik berdasar pada partisipasi dan produktivitasnya dalam pengerjaan proyek.
  7. Kesimpulan, pembelajaran berbasis proyek/tugas adalah sebuah metode penyajian bahan pembelajaran yang diberikan oleh guru kepada peserta didik berupa seperangkat tugas yang harus dikerjakan peserta didik, baik secara individual maupun secara kelompok.


Contoh Penerapan Discovery Learning

Pengertian discovery learning menurut Jerome Bruner adalah metode belajar yang mendorong peserta didik untuk mengajukan pertanyaan dan menarik kesimpulan dari prinsip-prinsip umum praktis contoh pengalaman. Dan yang menjadi dasar ide J. Bruner ialah pendapat dari piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif didalam belajar di kelas. Untuk itu Bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya discovery learning, yaitu di mana murid mengorganisasikan bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir.

Menurut Bell (1978) belajar penemuan adalah belajar yang terjadi sebagia hasil dari peserta didik memanipulasi, membuat struktur dan mentransformasikan informasi sedemikian sehingga ie menemukan informasi baru. Dalam belajar penemuan, peserta didik dapat membuat perkiraan (conjucture), merumuskan suatu hipotesis dan menemukan kebenaran dengan menggunakan prose induktif atau proses dedukatif, melakukan observasi dan membuat ekstrapolasi.

Pembelajaran penemuan merupakan salah satu model pembelajaran yang digunakan dalam pendekatan konstruktivis modern. Pada pembelajaran penemuan, peserta didik didorong untuk terutama belajar sendiri melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Guru mendorong peserta didik agar mempunyai pengalaman dan melakukan eksperimen dengan memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip atau konsep-konsep bagi diri mereka sendiri. 

Pemilihan model discovery learning memerlukan persyaratan pendukung untuk mereduksi kelemahan yang sering ditemukan, antara lain: 
  • Secara klasikal peserta didik memiliki kecerdasan/kecakapan awal yang lebih dengan keterampilan berbicara dan menulis yang baik. Peserta didik yang kurang pandai akan mengalami kesulitan untuk mengabstraksi, berpikir atau mengungkapkan hubungan antar konsep-konsep. Dikhawatirkan hal ini akan menimbulkan frustasi dalam belajar.
  • Jumlah peserta didik tidak terlalu banyak (jumlah maksimal di SD/MI sebanyak 28 peserta didik), karena untuk mengelola jumlah peserta didik yang banyak membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya. 
  • Pemilihan materi dengan kompetensi dominan pada aspek pemahaman yang dibutuhkan siswa uuntuk mencapai kopmpetensi yang diinginkan.
  • Fasilitas pembelajaran yang memadai dan menopang tercapainya tujuan pembelajaran seperti media, alat dan sumber belajar.

Adapun Langkah Pembelajaran Discovery Learning, sebagai berikut: 

  1. Menciptakan stimulus/rangsangan (Stimulation): Kegiatan penciptaan stimulus dilakukan pada saat peserta didik melakukan aktivitas mengamati fakta atau fenomena dengan cara melihat, mendengar, membaca, atau menyimak. Fakta yang disediakan dimulai dari yang sederhana hingga fakta atau femomena yang menimbulkan kontroversi. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu peserta didik dalam mengeksplorasi bahan. Dalam hal ini Bruner memberikan contoh stimulasi dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan peserta didik pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. Dengan demikian seorang Guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus agar tujuan mengaktifkan peserta didik untuk mengeksplorasi dapat tercapai.
  2. Menyiapkan pernyataan masalah (Problem Statement): Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutnya adalah guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atau opini atas pertanyaan masalah) (Syah 2004:244). Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan atau hipotesis, yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang dihadapi merupakan teknik yang berguna agar mereka terbiasa menemukan suatu masalah.
  3. Mengumpulkan data (Data Collecting): Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan dalam rangka membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Dengan demikian peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, melalui berbagai cara, misalnya membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. Manfaat dari tahap ini adalah peserta didik belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, sehingga secara alamiah peserta didik menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
  4. Mengolah data (Data Processing): Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh peserta didik baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah,2002:22). Pengolahan data disebut juga dengan pengkodean (coding) atau kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut peserta didik akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
  5. Memverifikasi data (Verification): Pada tahap ini peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan sebelumnya dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004: 244). Verification menurut Bruner, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Berdasarkan hasil pengolahan data dan tafsiran terhadap data, kemudian dikaitkan dengan hipotesis,maka akan terjawab apakah hipotesis tersebut terbukti atau tidak.
  6. Menarik kesimpulan (Generalisation): Tahap generalisasi/menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004: 244). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsipprinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan peserta didik harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan materi pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.


Adapun manfaat model pembelajaran Discovery Learning yaitu: 
  • Membantu peserta didik memperbaiki dan meningkatkan keterampilan kognisi. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini di mana keberhasilan tergantung pada bagaimana cara belajarnya. 
  • Pengetahuan yang diperoleh bersifat individual dan optimal karena menguatkan pengertian, ingatan, dan transfer pengetahuan.
  • Menumbuhkan rasa senang pada peserta didik, karena berhasil melakukan penyelidikan.
  • Memungkinkan peserta didik berkembang dengan cepat sesuai kemampuannya.
  • Menyebabkan peserta didik mengarahkan kegiatan belajar dengan melibatkan akal dan motivasinya.
  • Membantu peserta didik memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan diri melalui kerjasama dengan peserta didik lain.
  • Membantu peserta didik menghilangkan keraguan karena mengarah pada kebenaran final yang dialami dalam keterlibatannya.
  • Mendorong peserta didik berpikir secara intuitif, inisiatif, dalam merumuskan hipotesis.
  • dapat mengembangkan bakat, minat, motivasi, dan keingintahuan.
  • Memungkinkan peserta didik memanfaatkan berbagai sumber belajar.

Contoh Penerapan Pembelajaran Berbasis Kontekstual


Pembelajaran kontekstual atau dikenal dengan CTL merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. 

Dengan demikian, pembelajaran kontekstual sebagai suatu model pembelajaran yang memberikan fasilitas kegiatan belajar peserta didik untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman belajar yang lebih bersifat konkret (terkait dengan kehidupan nyata) melalui keterlibatan aktivitas peserta didik dalam mencoba, melakukan dan mengalami sendiri. Kegiatan belajar aktif bsa membuahkan hasil belajar yang langgeng. Misalnya dalam materi akhlak, peran guru memfasilitasi diinternalisasinya nilai-nilai oleh peserta didik antara lain guru sebagai fasilitator, motivator, partisipan, dan pemberi umpan balik.

Pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada upaya memfasilitasi peserta didik mencari kemampuan untuk bisa hidup (life skill) dari apa yang dipelajarinya. Berdasarkan kegiatan yang ditimbulkannya, strategi pembelajaran yang ada pada pembelajaran konstruktif ini berpusat pada peserta didik. Karena strategi ini memiliki ciri bahwa pembelajaran menitikberatkan pada keaktifan peserta didik, kegiatan belajar dilakukan secara kritis dan analitik.

Peran pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran kontekstual:
  • Murid sebagai individu yang sedang berkembang, kemampuan belajarnya akan dipengaruhi oleh perkembangan dan keluasan pengamalannya, sedangkan guru sebagai pembimbing peserta didik agar mereka bisa belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
  • Murid sebagai Individu yang selalu ingin mencoba memecahkan masalahnya dalam mengikuti proses pembelajaran, sedangkan guru akan memilihkan bahan ajar yang esensi untuk dipelajari murid-muridnya.
  • Murid sebagai individu yang mencari keterkaitan/ keterhubungan antara hal-hal yang baru dan hal-hal yang sudah diketahui, sedangkan guru selalu membantu agar setiap peserta didik mampu menemukan keterkaitan pengalaman baru dengan sebelumnya.
  • Murid sebagai ndividu yang sedang melakukan proses asimilasi dan akomodasi terhadap bergam situasi dan keadaan selama proses pembelajaran, sedangkan guru memposisikan dirinya sebagai fasilitator agar peserta didik mampu melakukan proses asimilasi dan akomodasi


Contoh Penerapan Pembelajaran Berbasis Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran di mana peserta didik belajar bersama dan bertanggung jawab terhadap teman/kelompoknya. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan pada peserta didik untuk saling berinteraksi. Peserta didik yang saling menjelaskan pengertian suatu konsep pada temannya sebenarnya sedang mengalami proses belajar yang sangat efektif yang bisa memberikan hasil belajar yang jauh lebih maksimal daripada kalau dia mendengarkan penjelasan guru.

Pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengembangkan beberapa kecakapan hidup yang disebut sebagai kecakapan berkomunikasi dan kecakapan bekerja sama. Kecakapan ini memiliki peranan penting dalam kehidupan nyata. Pembelajaran kooperatif juga dapat dipakai sebagai sarana untuk menanamkan sikap inklusif, yaitu sikap yang terbuka terhadap berbagai perbedaan yang ada pada diri sesame peserta didik di sekolah. Pengalaman bekerja sama dengan teman yang memiliki perbedaan dari segi agama, suku, prestasi, jenis kelamin, dan lain lain diharapkan bisa membuat peserta didik menghargai perbedaan tersebut.

Sayangnya, dalam pembelajaran sehari-hari pembelajaran kooperatif sering dipahami hanya sebagai duduk bersama dalam kelompok. Peserta didik duduk berkelompok tapi tidak saling berinteraksi untuk saling membelajarkan; mereka bekerja sendiri-sendiri. Penerapan pembelajaran kooperatif akan memberikan hasil yang efektif kalau memerhatikan dua prinsip inti berikut. Pertama adalah adanya saling ketergantungan yang positif. 

Semua anggota dalam kelompok saling bergantung kepada anggota yang lain dalam mencapai tujuan kelompok, misalnya menyelesaikan tugas dari guru. Prinsip yang kedua adalah adanya tanggung jawab pribadi (individual accountability). Di sini setiap anggota kelompok harus memiliki kontribusi aktif dalam bekerja sama. 

Karena itu penting bagi kita mempelajari beberapa bentuk pembelajaran kooperatif dan penerapan yang sebenarnya supaya kesalahpahaman tentang belajar kelompok/kooperatif dalam pembelajaran dapat dihindari. Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif yaitu:
Menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik: Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada kegiatan pelajaran dan menekankan pentingnya topik yang akan dipelajari dan memotivasi peserta didik belajar
Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi atau materi kepada peserta didik dengan jalan demonstrasi atau melalui bahan bacaan.
Mengorganisasikan peserta didik ke dalam kelompok-kelompok belajar, Guru menjelaskan kepada peserta didik bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membimbing setiap kelompok agar melakukan transisi secara efektif dan efisien.
Membimbing kelompok bekerja dan belajar, Guru membimbing kelompokkelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Memberikan penghargaan, Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.


Contoh Penerapan Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)

Direct Instruction diartikan dengan instruksi langsung dikenal juga dengan active learning atau ada juga yang menamakan whole-class teaching. Hal ini mengacu pada gaya mengajar guru yang mengusung isi pelajaran kepada peserta didik dan mengajarkannya secara langsung kepada mereka. 

Karena model ini masih merupakan rentetan dari model pembelajaran behavioral, maka sasaran yang dilakukan oleh guru adalah pencapaian tingkah laku yang lebih positif dan lebih baik dari sebelumnya, kepada seluruh peserta didik Dalam model ini juga, guru menjelaskan mengenai suatu konsep baru kepada peserta didik. Pembelajarannya ditekankan pada aspek modelling, reinforcement (penguatan), feedback (respon balik), successive approximation (perkiraan suksesif), yang pada akhirnya tercipta tingkah laku peserta didik yang lebih positif.

Oleh karena karakternya yang seperti itu, tidak semua materi dapat menggunakan model ini, model ini hanya dapat diterapkan pada materi-materi yang membutuhkan latihan, meskipun demikian model ini mempunyai track record empiris yang cukup solid.

Prinsip-prinsip rancangan dalam model Direct Instruction ini adalah:

  • Konseptualisasi performa pembelajaran ke dalam tujuan-tujuan dan tugas-tugas;
  • Menguraikan tugas-tugas tersebut ke dalam komponen-komponen yang lebih kecil;
  • Mengembangkan aktivitas-aktivitas latihan;4)Memastikan adanya penguasaan;
  • Menyusun seluruh situasi pembelajaran ke dalam rangkaian-rangkaian yang memastikan adanya transfer antara satu komponen dengan komponen yang lain;
  • Terpenuhinya prasyarat pembelajaran sebelum menapaki pembelajaran berikutnya.

Keunggulan dari model direct instruction ini adalah :
  • Fokus terhadap pencapaian akademik peserta didik;
  • Arahan dan kontrol guru sangat dominan, 
  • Harapan yang tinggi untuk peserta didik;
  • Sistem manajemen waktu sangat ketat sehingga dalam jangka waktu tertentu pencapaian kemampuan akademik peserta didik dapat terpenuhi.

Dari keunggulan-keunggulan yang dipaparkan di atas, dapat ditarik satu kesimpulan bahwa model ini dirancang sedemikian rupa untuk membuat sebuah lingkungan pembelajaran yang berorientasi pada pencapaian prestasi akademik dan mengharuskan peserta didik untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan pada saat melaksanakan tugas-tugasnya. 

Dalam bagian sebelumnya, telah dipaparkan, bahwa model Direct Instruction ini adalah model pembelajaran yang terdiri dari;
  • penjelasan guru mengenai konsep baru, 
  • menguji pemahaman peserta didik di bawah bimbingan guru, dan 
  • mendorong mereka untuk terus melaksakan praktik. 


Adapun pelaksanaan dari model ini terbagi menjadi tiga tahap yaitu:

Tahap Persiapan

Sebelum melaksanakan model ini, guru membuat ‘kontrak belajar’ yang berisi :
  1. Menentukan materi pelajaran; 
  2. Melakukan peninjauan terhadap materi sebelumnya dan mengaitkan dengan materi yang akan datang (appersepsi); 
  3. Menentukan tujuan pelajaran 
  4. Menentukan prosedur pengajaran diantaranya adalah; 

        -  arahan yang jelas dan eksplisit tentang tugas yang harus dilakukan;
        - penjelasan tentang aktivitas yang harus dilakukan dan dijalani selama                proses pembelajaran;
        -  Membuat rekapitulasi hasil pelajaran (daftar nilai).

Tahap Pelaksanaan

1) Presentasi yang dilakukan oleh guru adalah sebagai berikut :
  • Menyajikan materi dengan singkat, padat dan memikat; 
  • Menyediakan beragam contoh tentang keterampilan baru; 
  • Memberi gambaran mengenai tugas pembelajaran; 
  • Menghindari digresi, tetap dan konsisten dalam satu topik; 
  • Menjelaskan poin yang sulit. 

2) Praktik yang terstruktur
  • Guru menuntun peserta didik dengan cara memberi contoh 
  • Peserta didik merespons; 
  • Guru memberikan koreksi terhadap kesalahan dan memperkuat praktik yang benar. 

3) Praktik di bawah bimbingan guru
  • Peserta didik melakukan praktik lagi di bawah bimbingan guru 
  • Guru menyuruh peserta didik melakukan praktik secara bergiliran. 

4) Diskusi Guru menguji pemahaman peserta didik tentang skill yang baru diajarkan dengan cara menanyakan pertanyaan yang efektif kepada mereka, dengan cara:
  • Mengajukan pertanyaan yang konvergen yaitu pertanyaan yang mengarah pada satu jawaban; 
  • Memastikan bahwa seluruh peserta didik memiliki kesempatan untuk merespons; 
  • Mengajukan pertanyaan pada mereka selama beberapa waktu; 

5) Menghindari pertanyaan yang tidak berhubungan dengan akademik dan guru memberi respons balik
Dalam memberikan respons balik, hendaknya seorang guru menjadi guru yang efektif dengan kriteria:
  • Apabila jawaban peserta didik salah, guru tidak menghakimi; 
  • Tanggap terhadap peserta didik; 
  • Guru menjelaskan dengan objektif apabila peserta didik mempunyai nilai baik. 

6) Tahap Akhir
Tahap akhir dari rangkaian model Direct Instruction ini adalah dengan melaksanakan praktik mandiri, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
Peserta didik melakukan praktik secara mandiri di kelas atau di rumah
Guru menunda memberikan respons terhadap peserta didik apabila mereka belum menyelesaikan seluruh rangkaian materi pelajaran.
Praktik mandiri dilakukan beberapa kali, dalam jangka waktu yang lama.




Demikian sajian kami tentang Penerapan Pendekatan Saintifik Dalam Pembelajaran Kurikulum 2013. Semoga bermanfaat