Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan

Mengintip Kehebatan Sistem Pendidikan di Jepang


Sistem Pendidikan di Jepang


Jepang merupakan salah satu maestro di bidang pendidikan, keilmuwan, dan teknologi. Semua orang tentu akan mengakui hal itu. Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana sih sistem pengajaran dan pendidikan di Jepang itu ??. Sebagai orang tua, sudah barang tentu Anda pasti tertarik untuk mengetahuinya. Maklumlah, setiap orang tua yang memiliki anak, tentunya berkeinginan agar anaknya kelak menjadi anak yang hebat. Begitupun juga dengan para pendidik serta pemerhati dunia pendidikan, tentunya juga sangat berkepentingan agar anak didik sebagai generasi penerus bangsa menjadi generasi yang lebih hebat daripada generasi yang ada sekarang ini. 

Berkaitan dengan hal ini, di sini akan kami sajikan artikel dari Musthafa Jumah, peminat kajian sejarah dan pendidikan, yang dibuat dalam bahasa Arab; di mana artikel ini berisi tentang kehebatan sistem pendidikan di Jepang yang patut untuk dijadikan sebagai bahan perbandingan serta referensi dalam mengembangkan sistem pendidikan di lembaga tempat mengabdi. Disini akan disajikan bagian terpenting dan inti artikel itu bagi Anda.

Jikalau ada yang bertanya tentang perkalian 21×13 berapakah hasilnya? Saya yakin Anda atau anak didik Anda akan mampu menjawabnya dalam semenit atau kurang. Namun jikalau ditanya berapakah hasil 123 dibagi 321 ?? Pasti Anda butuh waktu lebih dari semenit untuk bisa menjawabnya dengan benar. Namun, tahukah Anda, bahwa anak-anak Jepang mampu menjawab pertanyaan tersebut hanya dalam hitungan detik saja. Usia mereka belum mencapai 5 tahun. Mereka belajar huruf bukan dengan hafalan, namun dengan gambar dan permainan.

Kenapa itu Bisa Terjadi?

Ini berpangkal dari metode pengajaran negara tersebut yang berpegang dengan kwalitas, bukan kwantitas. Disini, kami akan memaparkan sebuah contoh bagaimana hal tersebut terjadi di jam matematika di Jepang. Inilah sejumlah info dan pengetahuan mengenai pengajaran di Jepang dan sekolah-sekolahnya:
Jam pelajaran dimulai dengan salam ala Jepang yang biasanya dilakukan kepada sang Guru, yang kemudian diikuti dengan pertanyaan seputar cara penyelesaian (rumus) yang sebelumnya sudah dituliskan di papan tulis. Pada hari ini para siswa belajar bagaimana menyelesaikan perkalian yang terdiri dari beberapa pecahan.

Siswa pertama menyelesaikan soal yang diberikan dan mengangkat tangannya. Kemudian guru menghampirinya untuk melihat bagaimana ia menyelesaikan soal yang diberikan. Guru tersebut membuat lingkaran di kertasnya, yang berarti jawabannya benar. Siswa tadi berdiri dan menjauh dari tempat duduknya. Kemudian ada siswa lainnya yang sudah menyelesaikan soal yang diberikan gurunya. Hanya saja, kali ini siswa yang pertama tadi memainkan perannya, yaitu peran sebagai guru untuk memeriksa jawaban temannya.

Di samping itu, Matematika juga dianggap sebagai bagian dari bahasa. Hal ini berarti bahwa ketika seorang anak didik diberikan kepercayaan untuk berperan sebagai guru yang memeriksa jawaban teman--temannya, maka sang anak didik tersebut akan berusaha untuk menyampaikan hal-hal yang sudah dia pahami kepada rekan-rekannya sesuai dengan bahasa yang ia kuasai serta teman-temannya juga akan lebih mudah mencerna. Dengan demikian pemahaman tersebut akan mudah terpatri dalam ingatan mereka. Orang-orang Jepang mengatakan bahwa : "Jikalau Anda mengajarkan orang lain apa yang sudah Anda pelajari, maka Anda akan mengingat apa yang Anda ajarkan 90% nya."

Jikalau para Guru berdiri di hadapan papan tulis hanya sekadar untuk menunaikan kewajiban mereka, pastinya tidak ada telinga yang akan mendengarkannya. Para siswa hanya akan mendapatkan sedikit saja. Oleh karena itu, positif memang jikalau Anda membuat mereka saling berpacu dalam menyelesaikan persoalan, kemudian sebagiannya berusaha untuk mengajarkan kepada sebagian lainnya. Hal yang paling penting adalah Anda memberikan mereka sedikit waktu untuk relaks, dan Anda harus membuat mereka termotivasi dan rajin sepanjang waktu.

Berkaitan dengan Bahasa.
Di seluruh dunia, biasanya anak-anak belajar antara 26-33 huruf. Apakah Anda tahu berapa banyak huruf yang dibutuhkan oleh orang-orang Jepang agar mereka bisa membaca dan menulis? Tentunya, lebih dari 26 huruf. Para penanggungjawab pendidikan paham betapa sulit membantu anak-anak mereka untuk mempelajari semua huruf itu, serta betapa sulitnya untuk menggunakannya dalam bahasa tulisan dan lisan. Bagaimanapun, dengan kemampuan yang hebat dalam hal pengajaran, ketika mereka lulus dari sekolah dasar, mereka sudah menjadi anak-anak yang paham dengan huruf Jepang (Kanji 1006).

Ketika mereka mencapai usia 15 tahun, yaitu ketika selesai dari pendidikan wajib, mereka akan mengetahui 1130 huruf tambahan lainnya. Bagi orang-orang Jepang, Katakana dan Hiragana adalah kumpulan tulisan audio. Keduanya adalah Kanji. Selain itu, setiap kumpulan tadi memiliki 46 huruf sebagai potongan-potongan lafal yang terikat dengan titik-titik tertentu, yang digunakan untuk menentukan perubahan-perubahan suara aslinya. Huruf-huruf itu dianggap cukup untuk mengungkapkan semua suara dalam Bahasa Jepang kontemporer.

Apa yang Membuat Sistem Pendidikan Jepang Begitu Istimewa?

Sistem pendidikan, bagi Jepang, dianggap sebagai sebagai kehormatan Nasional bagi negara tersebut, yang dianggap sebagai metode peradaban yang membantu para siswa Jepang untuk berprestasi menghadapi rival mereka dari semua penjuru dunia. Sistem pendidikan Jepang terdiri dari:
  • 6 Tahun di Sekolah Dasar
  • 3 Tahun di Sekolah Menengah Pertama
  • 3 Tahun di Sekolah Menengah Atas
  • 4 Tahun di Universitas

Masa pendidikan wajib itu (The gimukyoiku) selama 9 tahun; 6 tahun di sekolah dasar (shougakkou), dan 3 tahun di sekolah menengah pertama (chuugakkou). Sesuai dengan sistem pendidikan mereka yang bagus sekali, semua mendapatkan di pendidikan wajib, dan tidak ada satupun warganya yang buta huruf (0%). Walaupun Sekolah Menengah Atas (koukou) tidak wajib, akan tetapi tingkat pendaftaran di sekolah Menengah Atas tetap mencapai 96% di wilayah pedesaan, dan 100% di wilayah perkotaan.

Bagaimana Proses Pendidikan Sekolah-Sekolah di Jepang?

Sebagian besar sekolah-sekolah di Jepang menggunakan sistem 3 tahun, yang dimulai tahun ajaran baru di awal setiap bulan April. Selain tahun-tahun pertama di Sekolah Dasar, sekolah Menengah belajar setiap harinya dalam seminggu selama 6 jam, yang bisa dianggap sebagai salah satu masa belajar paling lama di dunia.
Setelah selesai sekolah, anak-anak wajib mengerjakan Tugas Rumah lainnya untuk mengisi waktu mereka. Liburan musim panas berlangsung selama 6 minggu, kemudian 2 minggu untuk liburan musim dingin dan musim semi. Selama liburan, ada sejumlah Tugas Rumah yang harus diselesaikan.
Setiap tahapan umur, ada kelas tertentu yang anak-anak diajarkan untuk semua materi, selain latihan-latihan praktis. Di sekolah Dasar, sebagian besar waktu digunakan oleh Guru untuk mengajarkan semua materi di semua kelas. Biasanya, jumlah siswa di setiap kelasnya tidak lebih dari 40 orang. Namun, setelah jumlah penduduk semakin banyak, jumlah siswa setiap kelasnya sekarang menjadi 50 siswa.

Apa yang Dipelajari Anak-Anak di Sekolah-Sekolah Jepang?

Para siswa belajar sejumlah materi yang mencakup Bahasa Jepang, Matematika, ilmu dan studi sosial, musik, industri, ilmu-ilmu tubuh dan ekonomi rumahan (seperti memasak dan menjahit). Sebagian besar sekolah sudah mulai mengajar bahasa Inggris di sekolah Dasar. Teknologi Informasi sudah menjadi perkara penting untuk kemajuan pengajaran. Sebagian besar sekolah memiliki kemampuan untuk terhubung dengan internet.
Para siswa belajar seni-seni Jepang juga, seperti Haiku (seni menulis) dan Shodo, yang mengharuskan pencelupan kuas ke dalam tinta dan menggunakannya untuk menulis Kanji, kemudian juga Kana dengan bentuk seni.
Haiku dianggap sebagai salah satu syair yang sudah berkembang di Jepang semenjak 400 tahun, yang memiliki 17 potongan lafadz untuk setiap bait syairnya, yang membentuk 3 satuan syair, yaitu 5, 7, 5 potongan lafal. Ia menggunakan berbagai bentuk ungkapan sederhana untuk mengungkapkan perasaan terdalam pembaca.

Info-Info Seputar Pendidikan di Jepang

  1. Sebagian besar sekolah Menengah di Jepang meminta para siswanya untuk memakai pakai seragam (Seifuku)
  2. Di sekolah dasar dan sekolah menengah umum pertama, diberikan sejumlah menu pokok (kyuushoku) yang dikonsumsi di kelas. Dengan metode ini, para siswa dan guru mendapatkan moment terbaik untuk saling memperkuat hubungan diantara mereka, yaitu ketika makan.
  3. Para siswa tidak lari meninggalkan jam-jam pelajaran di Jepang, dan mereka tidak telat sampai di sekolah.
  4. Para siswa di Jepang merasa benar-benar bahagia (85% di antara mereka)
  5. 91% diantara para siswa sama sekali tidak cuek dengan yang dijelaskan guru mereka.
  6. Para Guru sama sekali tidak perlu menunggu lama agar para siswa siap menerima pelajaran.
  7. Para siswa menghabiskan sekitar 235 menit setiap minggunya untuk jam matematika, dan mereka menghabiskan sedikit waktu saja untuk bahasa dan ilmu lainnya.
  8. Pendidikan di Taman Kanak-Kanak dianggap sebagai sesuatu yang paling penting di Jepang. Penelitian mendapati bahwa para siswa yang mengikuti pelajaran di Taman Kanak-Kanak cenderung mampu memberikan sesuatu yang lebih baik di usia 15 tahun dibandingkan dengan teman-teman mereka. Tidak mengherankan jikalau 99 % dari anak-anak Jepang ikut belajar di Taman Kanak-Kanak.
sumber : Musthafa Jumah, peminat kajian sejarah dan pendidikan

Oemar Bakri dan Surga yang Selalu Dirindukan


Sebuah Potret Profesi Guru : Antara riwayat, kenyataan dan harapan

Sahabat Alfata


Di era delapan puluhan, ada dua perasaan yang muncul saat melihat sosok para guru kita ketika kita masih duduk di bangku sekolah; yaitu perasaan kagum dan hormat. Kagum akan  luasnya wawasan mereka dan hormat karena begitu  berwibawanya mereka.  Dan hingga detik ini perasaan itu tetap sama, tak berubah sedikitpun. Hati kita tetap tergetar ketika kenangan tentang mereka melintas di pikiran kita. Sungguh sangat menakjubkan manakala para pahlawan tanpa jasa itu bisa menorehkan perasaan begitu dalam di hati seseorang; bahkan setelah sekian puluh tahun telah berlalu.  Entah mantra apa yang mereka miliki sehingga mereka bisa melakukannya. 

Terkadang terlintas dalam benak nan  usil ini, bahwa para guru kita pada waktu itu mungkin pada pintar ilmu pelet ataupun ilmu pengasihan yang sangat ampuh sehingga mereka mampu memberikan pesona yang tak kunjung pudar bagi siswa-siswinya selama berpuluh-puluh tahun. Atau mungkin sebelum menjadi seorang guru, mereka pada bertapa di gua-gua untuk mempelajari ajian “Serat Jiwa” dari seorang pendekar yang bernama Eyang Astagina dan diturunkan pada Brama Kumbara sampai pada tingkat 10 (Ingat Serial Sandiwara Radio yang sangat populer di era 80-an), sehingga mereka sangat piawai dalam “meluluh-lantakkan” jiwa anak didiknya sedemikian rupa serta dengan segenap kesaktian yang dimilikinya mampu menorehkan nilai-nilai keluhuran dan prestasi kepada setiap anak-didiknya.

Tapi apakah itu jawabannya ???? 
Ah, ternyata tidak demikian adanya......

Seperti kita ketahui bersama bahwa pada tahun 1981, seorang penyanyi yang bernama Virgiawan Listanto atau yang lebih dikenal dengan nama Iwan Fals menciptakan sebuah lagu yang berjudul “Guru Oemar Bakri”.  Lagu ini begitu fenomenal karena berhasil menggambarkan potret guru saat itu, sederhana, tidak sejahtera, lugu namun mampu mencetak banyak generasi sekelas BJ Habibie dan secara tidak langsung  menyindir  ketidak -pedulian pemerintah yang sedang berkuasa saat itu dan masa-masa sebelumnya.

Seperti kita ketahui bersama pula bahwa sebelum era 80-an ini, menjadi seorang guru merupakan sebuah profesi yang memprihatinkan, menyedihkan tidak menjanjikan serta harus siap hidup seadanya. Meskipun profesi  guru begitu mulia , namun ia bagaikan surga yang tak dirindukan dan hanya dipandang sebelah mata. Berbanding terbalik dengan profesi-profesi lainnya; misalnya profesi dokter yang membuat orang berlomba-lomba dan bersedia untuk membayar berapapun untuk bisa kuliah di jurusan kedokteran.

Seseorang yang pada saat itu bersekolah di lembaga keguruan (SPG /PGA) ataupun kuliah di Fakultas Keguruan, hampir bisa dipastikan dari awal mereka telah memiliki kesadaran bahwa menjadi seorang guru adalah sebuah panggilan nurani, sehingga ketika mereka benar-benar menjadi seorang guru, mereka menjalani profesi tersebut dengan penuh keikhlasan dan tanpa pamrih. Walhasil, pada akhirnya pengabdian dan kerja keras serta ketulusan mereka benar-benar terpatri di hati anak-didik mereka. Keikhlasan dan ketulusan inilah yang menjadi kunci utama keberhasilan para Pahlawan tanpa Tanda Jasa dalam mengukir prestasi serta menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti kepada setiap murid-muridnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, profesi guru akhirnya tidak lagi dipandang sebelah mata. Profesi ini mulai dianggap menjanjikan dan  mulai banyak yang mengincarnya. Profesi yang dianggap ideal bagi kaum perempuan karena kegiatan belajar hanya sampai tengah hari dan setelah itu bisa kembali berkumpul dengan keluarga. Profesi yang sempurna. Secara perlahan namun pasti, profesi ini menjadi harapan dan keinginan banyak orang serta sekaligus menjadi “Surga” yang mulai dirindukan. 

Dalam perkembangan berikutnya, pada saat profesi “Oemar Bakri” ini mulai menjadi surga yang dirndukan oleh banyak orang; pada saat yang sama,  saat ini menjadi guru bagai  kembali ke periode sebelumnya dimana ia menjadi surga yang tak dirindukan. 

Hal ini disebabkan oleh beberapa hal; diantaranya :

Pertama 

Keberadaan pasal 3 Undang-Undang Perlindungan Anak yang berbunyi “Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan  berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera”.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan UU tersebut maupun bunyi pasal 3, niat dan tujuannya baik yaitu untuk melindungi setiap anak Indonesia. Namun mungkin penafsirannya yang terlalu luas yang membuat guru menjadi serba salah dan serba terbatas dalam mengkoreksi kesalahan  siswa yang dianggap sudah melebihi bata kewajaran. Guru sekarang harus sangat berhati hati dalam menghadapi siswa karena sedikit saja menyentuh tubuh siswa bisa dianggap melanggar pasal 3 ini. Padahal guru juga manusia biasa yang memiliki kelemahan dalam menjaga emosinya yang terkadang reflex menyentil atau mencubit siswa, dengan niat tidak untuk menyakiti,  dan hal ini bisa berujung pada pelaporan kekerasan.  

Hal ini membuat guru kadang menjadi acuh bahkan bersikap masa bodoh dengan sikap siswa yang bermasalah karena untuk menghindari terpancingnya emosi yang berimbas pada masalah yang lebih besar. Akibatnya, siswa merasa benar sendiri karena sikapnya tidak dikoreksi oleh guru mereka. Mereka tahu betul bahwa hak mereka dilindungi oleh UU perlindungan anak. Kondisi ini menjadi lebih parah lagi manakala orang tua mereka ataupun pihak-pihak lain memanfaatkan UU ini untuk membela dan memanjakan anak-anak mereka.  

Mereka sama sekali tak mau tahu bahwa dalam UU yang sama pada pasal 19 juga disebutkan bahwa setiap anak juga memiliki kewajiban untuk menhormati orang tua, wali dan guru. Seharusnya mereka juga menyadari bahwa selain hak mereka yang dilindungi ,mereka juga memiliki kewajiban untuk menghormati guru.  Seandainya mereka mengetahui dan mengamalkannya niscaya akan terjalin hubungan yang baik antara guru dan murid.

Namun pada prakteknya, mereka hanya mengedepankan hak mereka dan lupa bahwa guru di mata agama dan hukum memiliki  posisi setara dengan orang tua mereka.

Kedua, 

Guru zaman sekarang adalah guru yang menghadapi generasi manja. Generasi yang dibesarkan oleh teknologi canggih dimana segala sesuatunya bisa didapatkan secara instant dan mudah, sehingga mereka kurang memahami makna perjuangan dan kesabaran. No pain no gain. Generasi yang dapat mengakses informasi seluas-luasnya; bahkan informasi yang belum tentu  sesuai untuk usia mereka. Generasi yang memiliki banyak distraksi yang membuat mereka sulit untuk berkonsentrasi pada pelajaran. Eksistensi  dan penampilan menjadi begitu penting dan utama bagi mereka. Update status di media sosial  menjadi ritual harian mereka.  Bayangkan berapa kali mereka harus mengupdate status mereka dalam kesehariannya. Lalu kapan mereka bisa fokus pada pelajaran ? Walaupun tentu saja pasti ada manfaat yang bisa didapatkan  melalui teknologi informasi ini, namun apabila orang tua tidak mau ikut bagian dalam kontrol dan pengawasan, sudah barang tentu lebih banyak menimbulkan kerugian. Belum lagi kalau ditambah dengan berbagai program tayangan televisi yang hanya mementingkan sisi komersil tanpa mempedulikan nasib generasi bangsa.

Dengan kata lain, mendidik generasi sekarang jauh lebih kompleks dan menghadapi tantangan yang lebih berat bila dibandingkan dengan para guru yang mendidik generasi sebelumnya. Begitu kompleksnya permasalahan diluar sana yang membuat siswa menjadi pribadi yang lebih rumit dan sulit untuk dihadapi harus disikapi dengan bijak dan hati hati. Guru harus mampu menjadi sumber pengetahuan sekaligus menjadi teman siswa yang bisa memahami kehidupan mereka. Hal ini tidak mudah karena seringkali disaat kita ingin mencoba menjadi teman mereka, mereka cenderung lupa batasan apa yang boleh dilakukan dan tidak. Guru lah yang harus selalu mengingatkan, akrab tapi tetap santun. Guru  juga harus berusaha menjadikan sekolah sebagai rumah kedua siswa  yang nyaman dan menciptakan proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan dirindukan oleh siswa adalah sebuah tantangan tersendiri.

Meskipun fakta yang ada sudah sedemikian kompleksnya, akan tetapi optimisme dan harapan itu haruslah selalu ada. Apa yang sedang dilakukan dan perjuangkan oleh para guru  pada saat sekarang ini memang tidak langsung nampak hasilnya. Saat ini para pendidik kita sedang melukis wajah pendidikan Indonesia yang baru  akan terlihat 10 atau 20 tahun mendatang.

Mengutip kata-kata bijak yang berbunyi : 
“Kalau bukan karena guruku, niscaya aku tak akan kenal dengan tuhanku"
”Saat melihat muridmu menjengkelkan dan melelahkan, maka hadirkanlah gambaran bahwa satu diantara mereka kelak akan menarik tanganmu menuju surga”.

Maka, tetaplah semangat dan tulus ikhlas dalam mendidik wahai Bapak dan Ibu Guru.  Meskipun tantangan sekarang ini semakin berat, namun yakinlah bahwa semakin banyak upaya yang Anda perjuangkan dalam mempersiapkan generasi emas di masa yang akan datang, akan semakin bertambah peluang Anda untuk menuju ke surga.

Sampai kapanpun menjadi seorang guru merupakan profesi yang akan menghantarkan kita ke surga yang selalu dirindukan.

Semoga ............




Antara Penulisan Allah atau Alloh : Sebuah Kajian

Bismillahirohmanirrohim

Sahabat Al Falah

Setelah admin memposting tentang Beberapa Gelar Sarjana dan Cara Penulisan yang Benar Menurut EYD, ada beberapa pertanyaan yang masuk mengenai penulisan mana yang benar dalam Islam dan bahasa Indonesia kata "ALLAH" atau kata "ALLOH"..
Tapi sebelum kita membahas lebih lanjut tentang mana yang benar antara penulisan “Allah” atau “Alloh”…? tersebut, terlebih dahulu kami coba untuk mengawali dengan menyajikan beberapa kutipan dari pendapat berikut ini:

Penulisan Allah atau Alloh yang benar


Sebagian muslim tidak mau menulis “Allah”, sebab katanya seperti tulisan yang dipakai  oleh orang Nashrani. Maka mereka menulis “Alloh” (dengan memakai huruf “o”) untuk membedakan dari Nashrani.

Beberapa Gelar Sarjana dan Cara Penulisan yang Benar Menurut EYD

Sahabat Al Falah




Berdasarkan aturan kebahasaan, penulisan gelar termasuk kategori pemahaman tentang singkatan. Singkatan adalah kependekan yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik dilafalkan huruf demi huruf maupun dilafalkan sesuai dengan bentuk lengkapnya. Selain itu, dalam buku pedoman umum ejaan yang disempurnakan (EYD), penulisan gelar juga secara intens disinggung, bahkan disertai beberapa contoh penulisan yang benar. Namun demikian, masyarakat masih saja banyak yang belum memahami dengan baik teknik penulisan gelar yang benar. Kendati hanya persoalan kecil, tetapi kebanyakan orang tidak memahami cara penulisan gelar yang benar. Penulisan gelar sejatinya tidaklah sesulit yang dibayangkan, tetapi juga tidak segampang yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang.

Arti dan Falsafah yang Terkandung dalam Lagu ILIR-ILIR






Bismillahirrahmanirrahiim,



LIR ILIR / ILIR-ILIR


Tembang Dzikir ciptaan Sunan Kalijaga


Lir-ilir, lir-ilir, tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo, tak sengguh penganten anyar
Cah angon-cah angon, penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno, kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung jembar kalangane, mumpung padhang rembulane
Yo surak-o… surak hiyo…


Arti tembang lir ilir dalam bahasa Indonesia:


Sayup-sayup, Sayup-sayup bangun (dari tidur).
Tanaman-tanaman sudah mulai bersemi, demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru.
Anak-anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu, walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian.
Pakaian-pakaian yang koyak disisihkan.
Jahitlah benahilah untuk menghadap nanti sore.
Selagi sedang terang rembulannya.
Selagi sedang banyak waktu luang.
Mari bersorak-sorak ayo...



FALSAFAH DAN MAKNA TEMBANG LIR ILIR

.
Ayo bangkit Islam telah lahir.
Hijau sebagai simbol agama Islam kemunculannya begitu menarik ibarat pengantin baru.
Pemimpin yang mengembala rakyat kenalah Islam sebagai agamamu.
Ia ibarat belimbing dengan 5 sisi sebagai 5 rukun Islam.
Meskipun sulit dan banyak rintangan sebarkanlah ke masyarakat dan anutlah.
Guna untuk mensucikan diri dari segala dosa dan mensucikan aqidah.
Terapkanlah Islam secara kaffah sampai ke rakyat kecil (pinggiran).
Perbaikilah apa yang telah menyimpang dari ajaran Islam untuk dirimu dan orang lain guna bekal kamu di akhirat kelak.
Mumpung masih hidup dan selagi masih diberikan kesempatan untuk bertobat.
Dan berbahagialah semoga selalu dirahmati Allah.



Wallahu a'lam..