Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Oemar Bakri dan Surga yang Selalu Dirindukan


Sebuah Potret Profesi Guru : Antara riwayat, kenyataan dan harapan

Sahabat Alfata


Di era delapan puluhan, ada dua perasaan yang muncul saat melihat sosok para guru kita ketika kita masih duduk di bangku sekolah; yaitu perasaan kagum dan hormat. Kagum akan  luasnya wawasan mereka dan hormat karena begitu  berwibawanya mereka.  Dan hingga detik ini perasaan itu tetap sama, tak berubah sedikitpun. Hati kita tetap tergetar ketika kenangan tentang mereka melintas di pikiran kita. Sungguh sangat menakjubkan manakala para pahlawan tanpa jasa itu bisa menorehkan perasaan begitu dalam di hati seseorang; bahkan setelah sekian puluh tahun telah berlalu.  Entah mantra apa yang mereka miliki sehingga mereka bisa melakukannya. 

Terkadang terlintas dalam benak nan  usil ini, bahwa para guru kita pada waktu itu mungkin pada pintar ilmu pelet ataupun ilmu pengasihan yang sangat ampuh sehingga mereka mampu memberikan pesona yang tak kunjung pudar bagi siswa-siswinya selama berpuluh-puluh tahun. Atau mungkin sebelum menjadi seorang guru, mereka pada bertapa di gua-gua untuk mempelajari ajian “Serat Jiwa” dari seorang pendekar yang bernama Eyang Astagina dan diturunkan pada Brama Kumbara sampai pada tingkat 10 (Ingat Serial Sandiwara Radio yang sangat populer di era 80-an), sehingga mereka sangat piawai dalam “meluluh-lantakkan” jiwa anak didiknya sedemikian rupa serta dengan segenap kesaktian yang dimilikinya mampu menorehkan nilai-nilai keluhuran dan prestasi kepada setiap anak-didiknya.

Tapi apakah itu jawabannya ???? 
Ah, ternyata tidak demikian adanya......

Seperti kita ketahui bersama bahwa pada tahun 1981, seorang penyanyi yang bernama Virgiawan Listanto atau yang lebih dikenal dengan nama Iwan Fals menciptakan sebuah lagu yang berjudul “Guru Oemar Bakri”.  Lagu ini begitu fenomenal karena berhasil menggambarkan potret guru saat itu, sederhana, tidak sejahtera, lugu namun mampu mencetak banyak generasi sekelas BJ Habibie dan secara tidak langsung  menyindir  ketidak -pedulian pemerintah yang sedang berkuasa saat itu dan masa-masa sebelumnya.

Seperti kita ketahui bersama pula bahwa sebelum era 80-an ini, menjadi seorang guru merupakan sebuah profesi yang memprihatinkan, menyedihkan tidak menjanjikan serta harus siap hidup seadanya. Meskipun profesi  guru begitu mulia , namun ia bagaikan surga yang tak dirindukan dan hanya dipandang sebelah mata. Berbanding terbalik dengan profesi-profesi lainnya; misalnya profesi dokter yang membuat orang berlomba-lomba dan bersedia untuk membayar berapapun untuk bisa kuliah di jurusan kedokteran.

Seseorang yang pada saat itu bersekolah di lembaga keguruan (SPG /PGA) ataupun kuliah di Fakultas Keguruan, hampir bisa dipastikan dari awal mereka telah memiliki kesadaran bahwa menjadi seorang guru adalah sebuah panggilan nurani, sehingga ketika mereka benar-benar menjadi seorang guru, mereka menjalani profesi tersebut dengan penuh keikhlasan dan tanpa pamrih. Walhasil, pada akhirnya pengabdian dan kerja keras serta ketulusan mereka benar-benar terpatri di hati anak-didik mereka. Keikhlasan dan ketulusan inilah yang menjadi kunci utama keberhasilan para Pahlawan tanpa Tanda Jasa dalam mengukir prestasi serta menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti kepada setiap murid-muridnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, profesi guru akhirnya tidak lagi dipandang sebelah mata. Profesi ini mulai dianggap menjanjikan dan  mulai banyak yang mengincarnya. Profesi yang dianggap ideal bagi kaum perempuan karena kegiatan belajar hanya sampai tengah hari dan setelah itu bisa kembali berkumpul dengan keluarga. Profesi yang sempurna. Secara perlahan namun pasti, profesi ini menjadi harapan dan keinginan banyak orang serta sekaligus menjadi “Surga” yang mulai dirindukan. 

Dalam perkembangan berikutnya, pada saat profesi “Oemar Bakri” ini mulai menjadi surga yang dirndukan oleh banyak orang; pada saat yang sama,  saat ini menjadi guru bagai  kembali ke periode sebelumnya dimana ia menjadi surga yang tak dirindukan. 

Hal ini disebabkan oleh beberapa hal; diantaranya :

Pertama 

Keberadaan pasal 3 Undang-Undang Perlindungan Anak yang berbunyi “Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan  berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera”.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan UU tersebut maupun bunyi pasal 3, niat dan tujuannya baik yaitu untuk melindungi setiap anak Indonesia. Namun mungkin penafsirannya yang terlalu luas yang membuat guru menjadi serba salah dan serba terbatas dalam mengkoreksi kesalahan  siswa yang dianggap sudah melebihi bata kewajaran. Guru sekarang harus sangat berhati hati dalam menghadapi siswa karena sedikit saja menyentuh tubuh siswa bisa dianggap melanggar pasal 3 ini. Padahal guru juga manusia biasa yang memiliki kelemahan dalam menjaga emosinya yang terkadang reflex menyentil atau mencubit siswa, dengan niat tidak untuk menyakiti,  dan hal ini bisa berujung pada pelaporan kekerasan.  

Hal ini membuat guru kadang menjadi acuh bahkan bersikap masa bodoh dengan sikap siswa yang bermasalah karena untuk menghindari terpancingnya emosi yang berimbas pada masalah yang lebih besar. Akibatnya, siswa merasa benar sendiri karena sikapnya tidak dikoreksi oleh guru mereka. Mereka tahu betul bahwa hak mereka dilindungi oleh UU perlindungan anak. Kondisi ini menjadi lebih parah lagi manakala orang tua mereka ataupun pihak-pihak lain memanfaatkan UU ini untuk membela dan memanjakan anak-anak mereka.  

Mereka sama sekali tak mau tahu bahwa dalam UU yang sama pada pasal 19 juga disebutkan bahwa setiap anak juga memiliki kewajiban untuk menhormati orang tua, wali dan guru. Seharusnya mereka juga menyadari bahwa selain hak mereka yang dilindungi ,mereka juga memiliki kewajiban untuk menghormati guru.  Seandainya mereka mengetahui dan mengamalkannya niscaya akan terjalin hubungan yang baik antara guru dan murid.

Namun pada prakteknya, mereka hanya mengedepankan hak mereka dan lupa bahwa guru di mata agama dan hukum memiliki  posisi setara dengan orang tua mereka.

Kedua, 

Guru zaman sekarang adalah guru yang menghadapi generasi manja. Generasi yang dibesarkan oleh teknologi canggih dimana segala sesuatunya bisa didapatkan secara instant dan mudah, sehingga mereka kurang memahami makna perjuangan dan kesabaran. No pain no gain. Generasi yang dapat mengakses informasi seluas-luasnya; bahkan informasi yang belum tentu  sesuai untuk usia mereka. Generasi yang memiliki banyak distraksi yang membuat mereka sulit untuk berkonsentrasi pada pelajaran. Eksistensi  dan penampilan menjadi begitu penting dan utama bagi mereka. Update status di media sosial  menjadi ritual harian mereka.  Bayangkan berapa kali mereka harus mengupdate status mereka dalam kesehariannya. Lalu kapan mereka bisa fokus pada pelajaran ? Walaupun tentu saja pasti ada manfaat yang bisa didapatkan  melalui teknologi informasi ini, namun apabila orang tua tidak mau ikut bagian dalam kontrol dan pengawasan, sudah barang tentu lebih banyak menimbulkan kerugian. Belum lagi kalau ditambah dengan berbagai program tayangan televisi yang hanya mementingkan sisi komersil tanpa mempedulikan nasib generasi bangsa.

Dengan kata lain, mendidik generasi sekarang jauh lebih kompleks dan menghadapi tantangan yang lebih berat bila dibandingkan dengan para guru yang mendidik generasi sebelumnya. Begitu kompleksnya permasalahan diluar sana yang membuat siswa menjadi pribadi yang lebih rumit dan sulit untuk dihadapi harus disikapi dengan bijak dan hati hati. Guru harus mampu menjadi sumber pengetahuan sekaligus menjadi teman siswa yang bisa memahami kehidupan mereka. Hal ini tidak mudah karena seringkali disaat kita ingin mencoba menjadi teman mereka, mereka cenderung lupa batasan apa yang boleh dilakukan dan tidak. Guru lah yang harus selalu mengingatkan, akrab tapi tetap santun. Guru  juga harus berusaha menjadikan sekolah sebagai rumah kedua siswa  yang nyaman dan menciptakan proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan dirindukan oleh siswa adalah sebuah tantangan tersendiri.

Meskipun fakta yang ada sudah sedemikian kompleksnya, akan tetapi optimisme dan harapan itu haruslah selalu ada. Apa yang sedang dilakukan dan perjuangkan oleh para guru  pada saat sekarang ini memang tidak langsung nampak hasilnya. Saat ini para pendidik kita sedang melukis wajah pendidikan Indonesia yang baru  akan terlihat 10 atau 20 tahun mendatang.

Mengutip kata-kata bijak yang berbunyi : 
“Kalau bukan karena guruku, niscaya aku tak akan kenal dengan tuhanku"
”Saat melihat muridmu menjengkelkan dan melelahkan, maka hadirkanlah gambaran bahwa satu diantara mereka kelak akan menarik tanganmu menuju surga”.

Maka, tetaplah semangat dan tulus ikhlas dalam mendidik wahai Bapak dan Ibu Guru.  Meskipun tantangan sekarang ini semakin berat, namun yakinlah bahwa semakin banyak upaya yang Anda perjuangkan dalam mempersiapkan generasi emas di masa yang akan datang, akan semakin bertambah peluang Anda untuk menuju ke surga.

Sampai kapanpun menjadi seorang guru merupakan profesi yang akan menghantarkan kita ke surga yang selalu dirindukan.

Semoga ............




Kecil-kecil Cabe Rawit. Siswa Madrasah Usia 6 dan 9 tahun Sabet Medali Olimpiade Robot Internasional




Lagi-lagi siswa madrasah berhasil mengukir prestasi membanggakan di ajang Internasional.
Syahrozad Nalfa Nadia (9) dan Avicenna Roghid Putra Sidik (6), dua siswa madrasah ini berhasil mencatatkan namanya dengan tinta emas pada ajang Asian Yout Robotic Olympiad (AYRO) 2016 yang digelar di Singapura. Di usianya yang belum sampai sepuluh tahun, kedua siswa Madrasah Pembangunan ini sudah mengukir prestasi bahkan pada ajang kompetisi yang diikuti oleh para siswa dari berbagai negara di Asean

Kompetisi robotik ini berlangsung dari tanggal 13-14 Maret 2016 kemarin. “Syahrozad Nalfa Nadia dan Avicenna Roghid Putra Sidik meraih Gold Prize medal brick Speed, Gold Prize Medal, Silver Prize Medals Maze Solving Junior, dan Bronze Medal Aerial Robotic Junior,” terang ibunda mereka berdua, Himatul Laily Waisnaini, Selasa (15/03).

Laily mengaku kaget sekaligus bangga dengan prestasi yang diraih kedua anaknya. Menurut Laily, kebanggaannya semakin terasa karena dia merasa bahwa pilihan  untuk menitipkan pendidikan  anaknya di madrasah tidaklah keliru. Selain belajar agama, di madrasah anak-anaknya juga belajar dan dilatih ilmu sains dan teknologi.

“Saya terharu, saya melihat langsung disana,” tururnya singkat, Selasa (15/03). Atas prestasi yang diraihnya, lanjut Laily, Ocha bahkan didaulat panitia membacakan puisi  Dzikir karya D. Zawawi Imron pada acara penutupan ajang robotic tersebut. “Saat Ocha membaca puisi, suasana menjadi hening,” tukas Laily.

Selain Ocha dan Avicenna, Andi Faiz Naufal Zain yang mewakili Madrasah Pembangunan UIN Jakarta tampil di tim senior juga berhasil meraih Gold Prize Medal Robot Kreatif dan BPM Animal Robotic.  Tim MTs Negeri Pamulang juga berhasil mengukir prestasi pada ajang lombat robot ini.  Ibrahim dan Ridho berhasil meraih Gold Prize Medal Soccer Senior, sedangkan  Nisa dan Nadya meraih Special Award Robot Kreatif dan Animasi.  Siswa lainnya bernama Raka mendapat GPM Soccer Senior.

Dari total 10 cabang yang dilombakan, siswa madrasah berhasil memborong 9 piala. Merekapun kembali ke Indonesia dengan status sebagai juara umum  ajang kompetisi robot Internasional  di Singapura.

sumber : kemenag go.id
Subhanallah, Ini Dia Aisyah Hafidzul Quran Termuda dan Terbaik Lulusan Turki

Subhanallah, Ini Dia Aisyah Hafidzul Quran Termuda dan Terbaik Lulusan Turki



Hafidzul Quran Termuda dan Terbaik Lulusan Turki



Palangka Raya (Inmas) Aisyah binti H. Umar Hasan, santriwati Ponpes Iqro binaan Kemenag Kota Palangka Raya merampungkan pendidikan hafidzul Quran di salah satu institut agama Islam di Turki dalam usia 15 tahun.

Putri kelima pasangan H. Umar Hasan dan Hj. Hafizah ini mendapatkan beasiswa penuh untuk belajar menghafal dan mendalami isi kandungan Alquran.

Sekitar dua tahun, Aisyah menimba ilmu di salah satu negara di Timur Tengah itu. Ia merupakan siswi termuda dan mendapatkan nilai terbaik.

Didampingi Kasi Pendidikan Diniah dan Pontren Hj. Windarti, S.Ag serta Kepala Kemenag Kota, Drs. H. Baihaqi, M.AP, Aisyah dan kakak kandungnya Ahmad Umar Mukhtar (19 thn) yang juga hafidzul Qur’an 30 juz lulusan Turki bersilaturahmi dengan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Kalteng di ruang kerjanya, Jln. Brigjend Katamso, Lt. 2 Palangka Raya, Jumat (29/1).

Pada pertemuan itu, Kakanwil, H. Abdul Halim H. Ahmad, Lc., MM menyambut baik kedatangan kakak beradik yang meski masih sangat muda namun sudah hafal Al Qur’an 30 Juz.

“Kita wajib bersyukur atas keberhasilan dan kegigihan anak-anak kita ini dalam mencintai Al Qur’an. Terima kasih banyak kepada Kasi PD Pontren dan Kepala Kemenag Kota yang selalu mensupport dan mendorong kemajuan madrasah maupun pondok pesantren. Kebetulan ada undangan dari panitia musabaqah tahunan hafalan Alquran dan Hadist dari Pangeran Sultan bin Abdul ‘Aziz Alu Su’ud melalui Kedubes Arab Saudi di Jakarta yang akan dilaksanakan pada 3 Maret 2016. Kami harap, anak-anakku bersedia mengikutinya,” ujar H. Abdul Halim.

Menanggapi itu, Kasi PD Pontren dan Kakankemenag berjanji untuk membantu menyelesaikan segala persiapan mengikuti undangan tersebut.

“Insya Allah, akan kami tindak lanjuti dengan serius. Mudah-mudahan tidak ada aral melintang. Nanti, akan ada lagi datang anak kami yang juga belajar di Turki sama seperti Aisyah. Dia juga telah menyelesaikan pendidikannya di Turki dan hafal Quran 30 juz, yang lebih menggembirakan, anak ini merupakan anak asli suku Dayak, “ ujar H. Baihaqi dengan mata berbinar.

Saat ditanya oleh repoter Inmas, rencana Aisyah selanjutnya, gadis berkulit putih yang mengenakan pakaian adat timur tengah (abaya) ini menyatakan ia diharuskan magang selama dua tahun di UICCI Jakarta.

“Setelah selesai magang, saya ingin melanjutkan sekolah saya ke jenjang yang lebih tinggi lagi,” ucap Aisyah.

Kasi PD Pontren, menyatakan siap membantu mencarikan sekolah yang mereka inginkan. Menurut Hj. Windarti, IAIN Palangka Raya sudah menyatakan kesiapannya melakukan kerja sama dengan Kemenag Kota dalam rangka peningkatan sumber daya manusia.

“IAIN Palangka Raya, siap memberikan beasiswa ikatan dinas kepada anak kita yang hafal Quran 30 juz. Saya juga akan terus melakukan pembinaan dan menyemangati santri-santri di pondok pesantren untuk melanjutkan pendidikannya ketingkat yang lebih tinggi lagi. Sebab, mereka-mereka ini merupakan aset bangsa yang akan melanjutkan pembangunan dibidang moral dan agama,” ujar Hj. Windarti.

sumber : kalteng.kemenag.go.id

Memanfaatkan Kotak Catur sebagai Media Pembelajaran


Bismillahirrahmanirrahiim,



Pada kesempatan yang baik ini, kami ingin membagikan satu informasi tentang cara untuk Memanfaatkan Kotak Catur sebagai Media Pembelajaran. Dalam hal ini, media pembelajaran yang kami maksudkan untuk mata pelajaran Matematika.

Adapun cara untuk memanfaatkannya adalah kotak catur diubah menjadi alat peraga sederhana yang dapat digunakan untuk mendemonstrasikan tujuh materi pembelajaran matematika, yaitu pencerminan, putaran, sistem koordinat kartesius, menentukan keliling dan luas persegi panjang serta persegi, mengenal bangun datar sederhana, operasi hitung bilangan bulat dan tentunya bisa digunakan sesuai fungsi aslinya, yakni bermain catur. 

Dengan enam materi pembelajaran dan satu permainan tersebut saya khususkan untuk pembelajaran kelas tinggi dan lebih mudah dilakukan karena tersedia satu set dalam sebuah kotak.

Awalnya alat peraga ini hanya dibuat untuk materi tentang pencerminan dengan menggunakan sistem koordinat kartesius dan bermain bola dengan koordinat tersebut. Pada perkembangan selanjutnya ternyata alat peraga ini bisa juga dimanfaatkan untuk membuat putaran jika garis tengah pada kotak catur diperpanjang. Kemudian setelah melihat putaran dengan bangun-bangun datar, ternyata bangun datar tersebut dapat dihitung juga luasnya karena mempunyai jarak yang sama. Untuk melengkapi alat peraga ini akhirnya kami juga meletakkan kaca pada papan catur bagian dalam untuk pencerminan sebagaimana gambar berikut ini :


Memanfaatkan Kotak Catur sebagai Media Pembelajaran

Keterangan gambar :

  • Bermain bola dengan paku-paku koordinat kartesius (gambar 1);
  • Bidang untuk materi pencerminan dan putaran, pada koordinat Kartesius Karet untuk materi menentukan keliling, luas persegi panjang dan persegi, serta mengenal bangun datar sederhana (gambar 2);
  • Seperangkat alat peraga kotak catur yaitu cermin, papan berpaku dan lapangan bola (gambar 3 dan 4);
  • Satu set Kotak Catur 7 in 1 (gambar 5).


Cara Mendesain


Pertama, kita harus menyiapkan satu buah papan catur besar. Bagian dalam salah satu sisi papan catur (tempat meletakkan bidak catur) ditempeli cermin dan sisi lainnya diberi paku ukuran kecil dengan jarak antarpaku yang sama dan membentuk persegi. Setelah itu, dibuat garis sumbu koordinat kartesius (sumbu x dan y).

Untuk menambah manfaat dan daya tarik untuk siswa, siapkan satu lembar triplek kecil atau karton tebal. Triplek atau karton tebal dilubangi sesuai dengan letak paku dan gambari triplek atau kartun tersebut seperti lapangan bola kaki, sehingga dapat dimanfaatkan untuk bermain bola dengan titik-titik koordinat. Selain itu, kita juga harus mempersiapkan beberapa bidang kecil dari triplek atau kartun tebal dengan berbagai bentuk, misalnya jajargenjang, bujursangkar, trapesium, dan segitiga yang akan digunakan khusus untuk materi putaran. 

Cara Pemanfaatan


Untuk materi pencerminan yang merupakan bagian dari pembelajaran kelas IV, kita dapat menggunakan papan catur bagian dalam. Siswa diminta untuk mengambar satu bidang pada cermin dengan menggunakan spidol.

Kemudian sebuah karet gelang diletakkan pada papan berpaku mengikuti gambar bidang yang telah digambarkan pada cermin. Dengan materi ini, siswa menjadi lebih paham materi pencerminan dengan melihat karet berbentuk bidang pada cermin dan membandingkan dengan apa yang digambarkan.

Khusus untuk materi putaran (kelas IV), kita memerlukan peraga tambahan, yaitu beberapa bidang kecil yang telah dibentuk dan dipersiapkan. Cara bermainnya, letakkan bidang tersebut pada paku bagian tengah yang lebih panjang. Misalnya kita menempatkan segitiga sama kaki pada posisi nol derajat, selanjutnya segitiga tersebut diputar hingga 90 derajat. Siswa diminta untuk menggambarkan posisi segitiga sebelum dan sesudah terjadi putaran.

Siswa juga diajak untuk mengenal bangun datar dengan menggunakan karet gelang. Materi untuk kelas III tersebut dapat mengenalkan siswa pada bentuk-bentuk bangun datar yang dilakukannya sendiri dengan mengunakan karet gelang tersebut dan menggambarkannya di atas kertas. Selanjutnya, siswa juga diajak untuk menentukan keliling dan luas persegi panjang serta persegi. Kita masih menggunakan karet gelang untuk membentuk bidang-bidang pada paku.

Siswa dapat menghitung sendiri keliling dan luas bidang datar karena jarak antara satu paku dengan paku lainnya sama. Materi kelas IV tersebut yang disajikan dengan cara siswa melakukan sendiri ternyata menyenangkan siswa.

Untuk kelas V dan VI, materi operasi hitung bilangan bulat dilakukan dengan menggunakan bidak catur. Bidak catur berwarna hitam bermakna negatif dan bidak catur berwarna putih bermakna positif. Satu bidak catur berwarna hitam dan satu bidak catur berwarna putih (berpasangan) mempunyai nilai sama dengan nol.

Selanjutnya siswa diajak bermain hitung bilangan bulat dengan menggunakan bidak catur. Siswa yang mengalami kesulitan belajar operasi hitung bilangan bulat ternyata lebih mudah memahaminya dengan menggunakan bidak catur.

Materi lainnya, menentukan titik koordinat kartesius dengan meletakkan benda (seperti dadu yang telah dilubangi bagian tengah) pada koordinat yang dikehendaki (sumbu x dan y) di atas papan paku. Selain itu, dengan menggunakan triplek atau karton yang bergambar lapangan bola, siswa diajak bermain dengan koordinat tersebut secara bergantian menentukan titik-titik koordinat.

Terakhir, sambil bermain siswa juga diajak belajar menggunakan papan catur bagian atas dan bidakbidak catur. Untuk mengasah otak dalam salah satu cabang olah raga tersebut, siswa diajak berpikir sambil bermain catur.

Alat peraga ini juga bisa digunakan untuk kelas rendah, khususnya untuk mengenalkan berbagai bentuk bidang datar sederhana.

Demikian informasi yang bisa kami  bagikan tentang Memanfaatkan Kotak Catur sebagai Media Pembelajaran. Semoga bermanfaat



Ayat-ayat Penjagaan

Ayat-ayat Penjagaan






Bismillahirrahmanirrahiim,



Sahabat Al Falah,





AYAT AYAT PENJAGAAN

Alkisah, Muhammad bin Sirin, beliau berkata:

"Aku berhenti di satu tempat yang banyak perampoknya, dan ketika gelapnya malam, datang perampok lebih dari 70 kali dan mereka telah menghunuskan pedang2 mereka, lalu sebuah pagar besi menghalangi antara diriku dengan mereka, dan ketika pagi hari aku melanjutkan perjalananku, lalu ada seorang tua diatas kuda menemuiku, dan dia berkata.

"hai, kamu ini dari bangsa manusia atau jin? " , 
"bukan saya bukan jin tapi manusia."
lalu orang tua itu berkata: "dengan apa engkau mendapatkan kedudukan ini?"
maka aku menjawab: 
"dengan sebuah Hadist yang dikatakan oleh Ibn Umar dari Rasulullah saw. bahwasannya Rasulullah bersabda:
" siapa yang membaca pada malam hari 30 ayat maka tidak akan membahyakan dirinya perampok dan juga binatang buas, dan ia mendapatkan kebaikan pada badannya dan jiwanya, keluarganya dan hartanya hingga waktu pagi" (aw kama qala)
lalu ibn sirin berkata: maka orang tua tersebut turun dari kudanya dan bertaubat kepada allah ta'ala.
ketiga puluh ayat tersebut adalah :

1). 4 ayat permulaan surah al-baqarah yaitu sampai bacaan "al-Muflihuun"
2). ayat kursi & 2 ayat setelahnya yaitu sampai bacaan "Khooliduun"
3). 3 ayat dari surah al-a'raf yaitu ayat "Inna rabbakumullaahulladzii kholaqos samaawaati wal ardl" sampai pada lafadz "qoriibun minal muhsiniin"
4). 2 ayat di akhir surah al-isra' yaitu "Qulid'ullallaaha awid'ur rohmaan" sampai khir surat
5). 10 ayat di awal surah ash-shoffat sampai bacaan "laazib"
6). 2 ayat dari surah ar-rahmaan yaitu "yaa ma'syaral jinni wal insi" sampai bacaan "falaa tantashiruun"
7). 4 ayat dari surah al-hasyr yaitu "lau anzalnaa haadzal qur'aana 'alaa jabalin" sampai akhir surat
8). 2 ayat dari surah al-jinn yaitu "wa annahuu ta'aalaa jaddu robbanaa" sampai bacaan "syathotho"


الٓمٓ (١) ذَٲلِكَ ٱلۡڪِتَـٰبُ لَا رَيۡبَ‌ۛ فِيهِ‌ۛ هُدً۬ى لِّلۡمُتَّقِينَ (٢) ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ يُنفِقُونَ (٣) وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡأَخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ (٤) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ عَلَىٰ هُدً۬ى مِّن رَّبِّهِمۡ‌ۖ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ (٥)
ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَىُّ ٱلۡقَيُّومُ‌ۚ لَا تَأۡخُذُهُ ۥ سِنَةٌ۬ وَلَا نَوۡمٌ۬‌ۚ لَّهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشۡفَعُ عِندَهُ ۥۤ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦ‌ۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ‌ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىۡءٍ۬ مِّنۡ عِلۡمِهِۦۤ إِلَّا بِمَا شَآءَ‌ۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ‌ۖ وَلَا يَـُٔودُهُ ۥ حِفۡظُهُمَا‌ۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِىُّ ٱلۡعَظِيمُ 
لَآ إِكۡرَاهَ فِى ٱلدِّينِ‌ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَىِّ‌ۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّـٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا‌ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٢٥٦) ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ‌ۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَوۡلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّـٰغُوتُ يُخۡرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَـٰتِ‌ۗ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ
إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ۬ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ يُغۡشِى ٱلَّيۡلَ ٱلنَّہَارَ يَطۡلُبُهُ ۥ حَثِيثً۬ا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٲتِۭ بِأَمۡرِهِۦۤ‌ۗ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُ‌ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (٥٤) ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعً۬ا وَخُفۡيَةً‌ۚ إِنَّهُ ۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ (٥٥) وَلَا تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَـٰحِهَا وَٱدۡعُوهُ خَوۡفً۬ا وَطَمَعًا‌ۚ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ۬ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ (
٥٦)
قُلِ ٱدۡعُواْ ٱللَّهَ أَوِ ٱدۡعُواْ ٱلرَّحۡمَـٰنَ‌ۖ أَيًّ۬ا مَّا تَدۡعُواْ فَلَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ‌ۚ وَلَا تَجۡهَرۡ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتۡ بِہَا وَٱبۡتَغِ بَيۡنَ ذَٲلِكَ سَبِيلاً۬ (١١٠) وَقُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى لَمۡ يَتَّخِذۡ وَلَدً۬ا وَلَمۡ يَكُن لَّهُ ۥ شَرِيكٌ۬ فِى ٱلۡمُلۡكِ وَلَمۡ يَكُن لَّهُ ۥ وَلِىٌّ۬ مِّنَ ٱلذُّلِّ‌ۖ وَكَبِّرۡهُ تَكۡبِيرَۢا (١١١)
وَٱلصَّـٰٓفَّـٰتِ صَفًّ۬ا (١) فَٱلزَّٲجِرَٲتِ زَجۡرً۬ا (٢) فَٱلتَّـٰلِيَـٰتِ ذِكۡرًا (٣) إِنَّ إِلَـٰهَكُمۡ لَوَٲحِدٌ۬ (٤) رَّبُّ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَہُمَا وَرَبُّ ٱلۡمَشَـٰرِقِ (٥) إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِزِينَةٍ ٱلۡكَوَاكِبِ (٦) وَحِفۡظً۬ا مِّن كُلِّ شَيۡطَـٰنٍ۬ مَّارِدٍ۬ (٧) لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى ٱلۡمَلَإِ ٱلۡأَعۡلَىٰ وَيُقۡذَفُونَ مِن كُلِّ جَانِبٍ۬ (٨) دُحُورً۬ا‌ۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ۬ وَاصِبٌ (٩) إِلَّا مَنۡ خَطِفَ ٱلۡخَطۡفَةَ فَأَتۡبَعَهُ ۥ شِہَابٌ۬ ثَاقِبٌ۬ (١٠) فَٱسۡتَفۡتِہِمۡ أَهُمۡ أَشَدُّ خَلۡقًا أَم مَّنۡ خَلَقۡنَآ‌ۚ إِنَّا خَلَقۡنَـٰهُم مِّن طِينٍ۬ لَّازِبِۭ (١١)
يَـٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ إِنِ ٱسۡتَطَعۡتُمۡ أَن تَنفُذُواْ مِنۡ أَقۡطَارِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ فَٱنفُذُواْ‌ۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلۡطَـٰنٍ۬ (٣٣) فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٤) يُرۡسَلُ عَلَيۡكُمَا شُوَاظٌ۬ مِّن نَّارٍ۬ وَنُحَاسٌ۬ فَلَا تَنتَصِرَانِ (٣٥)
لَوۡ أَنزَلۡنَا هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ عَلَىٰ جَبَلٍ۬ لَّرَأَيۡتَهُ ۥ خَـٰشِعً۬ا مُّتَصَدِّعً۬ا مِّنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِ‌ۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَـٰلُ نَضۡرِبُہَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ (٢١) هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ‌ۖ عَـٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ‌ۖ هُوَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ (٢٢) هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَـٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَڪَبِّرُ‌ۚ سُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِڪُونَ (٢٣) هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَـٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُ‌ۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ‌ۚ يُسَبِّحُ لَهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ (٢٤)
وَأَنَّهُ ۥ تَعَـٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا ٱتَّخَذَ صَـٰحِبَةً۬ وَلَا وَلَدً۬ا (٣) وَأَنَّهُ ۥ كَانَ يَقُولُ سَفِيہُنَا عَلَى ٱللَّهِ شَطَطً۬ا (٤






(Sumber : Kitab Dzahabul Abroz imam Ghozzali)








Tuhanku mengizinkan aku mensyafaati seluruh umatku ....







Bismillahirrahmanirrahiim,



Sahabat Al Falah,



Suatu malam Khalifah Abu Bakar Asshiddiq (Radliyallahu 'Anhu) bermimpi dalam tidurnya. Kemudian beliau menangis dalam mimpinya itu. Sehingga tangisannya sampai terdengar keluar rumahnya. Kebetulan Sayyidina Umar bin Khatthab (Radliyallahu 'Anhu) sedang lewat mendengar tangisannya dan mengetuk pintu rumah beliau. Khalifah Abu Bakar membuka pintu dengan air mata yang masih berlinang. Kemudian Sayyidina Umar bertanya: "Mengapa engkau menangis ?". Lalu Khalifah Abu Bakar mejawab: "Kumpulkanlah para sahabat ada hal penting yang harus aku sampaikan."

Sayyidina Umar mengumpulkan seluruh sahabat, kemudian Khalifah Abu Bakar bercerita: "Sungguh aku bermimpi bahwa hari kiamat sedang terjadi dan aku melihat banyak orang dengan wajah bersinar berada diatas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya. Aku bertanya kepada malaikat: "Siapa gerangan mereka?". "Mereka para nabi-nabi terdahulu sedang menunggu Nabi Muhammad (shallahu 'alaihi wa sallam), sebab syafaat berada ditangan beliau." jawab malaikat.

"Lalu di mana beliau sekarang ?, tolong bawa aku padanya, aku pelayan dan sahabatnya." Lalu malaikat membawaku menemui Nabi Muhammad (shallahu 'alaihi wa sallam). Kemudian aku melihat Nabi sedang berada di depan 'Arsy dengan menengadahkan tangan kanan dan tangan kirinya diarahkan ke pintu neraka untuk menutupnya (agar tidak terbuka) serta berdoa: "ilaahiy ummatiy, ilaahiy ummati, ilaahiy ummati (Tuhanku selamatkanlah umatku), di antara mereka ada Ulama, Orang-orang Sholeh, Jama'ah Haji dan Umroh dan Orang-orang yang berjihad di jalan-Mu.”

Kemudian terdengar suara memanggil: "Yaa Muhammad, engkau menyebut golongan yang ta'at dan engkau tidak menyebut golongan yang lain, coba sebutkanlah orang-orang dhalim, pemabuk, pezina dan pemakan riba diantara mereka." Nabi bersabda: "Yaa Tuhanku, mereka ada juga seperti yang Engkau firmankan, tetapi di antara mereka tidak ada seorangpun yang menyekutukan-Mu, tidak menyembah selain-Mu, tidak menyebut-Mu mempunyai putera dan mereka tidak menyimpang dari tauhid kepada-Mu."

"Maka terimalah syafa'atku untuk mereka, kasihanilah tangisanku untuk mereka dan jadikanlah kesedihanku ini kebahagiaan untuk mereka."

(Mendengar munajatnya) Aku berkata kepada Nabi (shallahu 'alaihi wa sallam) : "Kasihanilah dirimu juga wahai Nabi..!!!" Beliau Nabi menjawab: "Yaa Aba Bakr, aku bersimpuh di hadapan Tuhanku agar aku diizinkan mensyafaati semua umatku." Dan ketika Nabi akan melanjutkan sabdanya engkau membangunkanku dengan ketukan pintu wahai Umar. (jadi aku tidak mengetahui apakah beliau diizinkan mensyafaati semua atau sebagian umatnya).

Tiba-tiba terdengar suara menggema dari dalam rumah: "Tuhanku mengizinkan aku mensyafaati seluruh umatku, Tuhanku mengizinkan aku mensyafaati seluruh umatku, Tuhanku mengizinkan aku mensyafaati seluruh umatku wahai Aba Bakr."


Mendengar suara itu Khalifah Abu Bakar (Radliyallahu 'Anhu) dan Sahabat Umar (Radliyallahu 'Anhu) berkata lega: "Alhamdulillaah...!!!"


(Sebagaimana dikisahkan dalam kitab An Nawaadir karya Imam Al Qulyubi)


Semoga kita semua kelak juga mendapatkan syafaatnya ..
Aaaamiiin